Artikel seminar kolokium

PENGARUH PENERAPAN STRATEGI BELAJAR PETA KONSEP (CONCEPT MAPPING) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK CAHAYA DAN ALAT OPTIK

KELAS VIII SMPN 1 PONOROGO

Heri Eko Asysyakiri

073184005

Pendidikan Fisika 2007

ABSTRAK

Fisika sebagai suatu mata pelajaran di sekolah dinilai cukup memegang peranan penting, baik pola pikirnya dalam membentuk siswa menjadi berkualitas maupun terapannya dalam kehidupan sehari-hari, karena Fisika merupakan suatu sarana berpikir untuk mengkaji sesuatu secara logis dan sistematis. Oleh sebab itu dianggap penting agar Fisika dapat dikuasai sedini mungkin oleh para siswa.Pembelajaran fisika pada siswa khususnya SMP tidak tanpa masalah.Fisika pun kadang menjadi momok dikarenakan sulitnya siswa memahami konsep-konsep yang ada secara menyeluruh.Siswa belajar cenderung hanya dengan hafalan rumus,sehingga apabila suatu saat lupa maka siswa akan kesulitan dalam menyelesaikan permasalahan fisika.Berdasarkan observasi awal diketahui bahawa siswa SMP Negeri 1 Ponorogo cenderung kesulitan dalam memahami konsep-konsep lanjut dalam fisika.Salah satu materi fisika yang mengandung banyak konsep yang saling terkait adalah cahaya dan alat optik kelas VIII. Strategi belajar peta konsep merupakan alternatif cara untuk membelajarkan siswa mengenai konsep-konsep secara menyeluruh. Oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti pengaruh penerapan strategi belajar peta konsep.Penelitian ini termasuk jenis penelitian true experimental dengan mengambil sampel yang homogen sebanyak dua kelas, satu sebagai kelas konbtrol dan yang lain sebagai kelas eksperimen. Dalam kelas eksperimen diberi perlakuan pembelajaran langsung dengan menggunakan strategi belajar peta konsep,sedangkan pembelajaran di kelas kontrol hanya menggunakan pembelajaran langsung tanpa strategi peta konsep.Kemudian hasil data yang diperoleh , dianalisis untuk mengetahui pengaruh strategi belajar peta konsep terhadap hasil belajar siswa.

Kata kunci : Cahaya dan alat optik, pembelajaran langsung, peta konsep, hasil belajar



  1. I. PENDAHULUAN
    1. A. Latar Belakang

Dalam beberapa tahun terakhir ini, bidang pendidikan Indonesia banyak mengalami pembaharuan, mulai dari penyempurnaan kurikulum yang semula menggunakan kurikulum 1999 kemudian beralih menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan yang terakhir adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum tersebut digunakan sebagai pedoman bagi pelaksanaan pendidikan dan mengembangkan berbagai ranah pendidikan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) dalam seluruh jenjang dan jalur pendidikan, khususnya pada jalur pendidikan sekolah. Selain itu banyak pula dikembangkan model pembelajaran yang bertujuan agar kegiatan belajar mengajar tidak hanya berorientasi untuk mencapai nilai yang tinggi tetapi juga meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep.

Weinstein dan Meyer dalam Nur (2000b:5) menyebutkan bahwa pengajaran yang baik meliputi mengajarkan siswa bagaimana mengingat, bagaimana berfikir, dan bagaimana memotivasi diri mereka sendiri. Banyak pendidik setuju bahwa mengajarkan siswa bagaimana belajar merupakan tujuan pendidikan yang sangat penting dan merupakan tujuan utama.

Berhasilnya tujuan pembelajaran ditentukan oleh banyak faktor diantaranya adalah faktor guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, karena guru secara langsung dapat mempengaruhi, membina dan meningkatkan kecerdasan serta keterampilan siswa. Untuk mengatasi permasalahan di atas dan guna mencapai tujuan pendidikan secara maksimal, peran guru sangat penting dan diharapkan guru memiliki cara/model mengajar yang baik dan mampu memilih model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan konsep-konsep mata pelajaran yang akan disampaikan.

Dari pengalaman yang penulis dapatkan ketika menjalani Program Pengenalan Lapangan 2 (PPL 2) penulis merasakan bahwa siswa kesulitan dalam mengingat konsep fisika yang telah disampaiakan. Seketika setelah pelajaran para siswa merasa mengerti dan bisa apabila diadakan evaluasi mengenai materi terkait,akan tetapi ketika waktu berlalu ke pertemuan berikutnya,siswa cenderung kesulitan mengingat konsep fisika yang telah disampaikan. Pada umunya ketika siswa belajar, mereka menghafal rumus rumus dan materi. Menurut Nur dalam Strategi-Strategi Belajar, strategi semacam  ini termasuk strategi mengulang yang merupakan strategi belajar yang paling sederhana.

Salah satu pernyataan dalam teori Ausubel adalah ‘bahwa faktor yang paling penting yang mempengaruhi pembelajaran adalah apa yang telah diketahui siswa (pengetahuan awal). Jadi supaya belajar jadi bermakna, maka konsep baru harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang ada dalam struktur kognitif siswa. Ausubel belum menyediakan suatu alat atau cara yang sesuai yang digunakan guru untuk mengetahui apa yang telah diketahui oleh para siswa (Dahar, 1988: 149). Berkenaan dengan itu Novak dan Gowin (1985) dalam Dahar (1988: 149) mengemukakan bahwa cara untuk mengetahui konsep-konsep yang telah dimiliki siswa, supaya belajar bermakna berlangsung dapat dilakukan dengan pertolongan peta konsep.

Peta konsep sangat tepat digunakan dalam materi atau pokok bahasan yang mengandung banyak informasi atau konsep yang saling terhubung satu sama lain.Salah satu materi fisika yang sering dianggap sulit oleh siswa dan mengandung banyak informasi atau konsep yang saling terhubung satu sama lain adalah “Cahaya dan Alat Optik”. Materi ini merupakan materi fisika kelas VIII.

Oleh karena permasalahan di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti bagaiman pengaruh penerapan strategi belajar peta konsep dalam pembelajaran langsung terhadap hasil belajar siswa.

  1. B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

“Bagaimana pengaruh penerapan strategi belajar peta konsep terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok cahaya dan alat optik kelas VIII SMP Negeri 1 Ponorogo?”

  1. C. Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana hasil belajar siswa dan ketuntasannya dengan menggunakan strategi belajar peta konsep pada materi pokok cahaya dan alat optik kelas VIII SMP Negeri 1 Ponorogo

 

  1. D. Manfaat Penelitian

Dari penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat sebagai berikut yaitu meningkatkan ketuntasan hasil belajar siswa, memberikan pengalaman nyata bagi penulis dalam menerapkan strategi belajar peta konsep, memberikan tambahan wawasan kepada para guru tentang strategi belajar peta konsep yang diterapkan dalam proses pembelajaran., serta memotivasi siswa untuk lebih giat belajar.

 

  1. E. Definisi Istilah

Agar tidak terjadi salah penafsiran terhadap istilah-istilah yang dipakai dalam penelitian ini ,maka perlu didefinisikan beberapa istilah yang dipakai dalam penelitian ini

 

  1. Peta Konsep

Peta konsep merupakan perwakilan visual (melalui penglihatan) atau organisator grafik tentang hubungan-hubungan antara konsep-konsep tertentu. Posner dan Rudnitsky dalam Nur (2001b: 36) menyatakan bahwa peta konsep mirip peta jalan, namun peta konsep menaruh perhatian pada hubungan antar ide-ide, bukan hubungan antar tempat. Peta konsep bukan hanya meggambarkan konsep-konsep yang penting melainkan juga menghubungkan antara konsep-konsep itu. Untuk membuat suatu peta konsep, siswa dilatih untuk mengidentifikasi ide-ide kunci yang berhubungan dengan suatu topik dan menyusun ide-ide tersebut dalam suatu pola logis.

 

  1. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah kegiatan belajar dengan menggunakan strategi belajar peta konsep. Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu:

(1)   Faktor dari dalam diri siswa, meliputi kemampuan yang dimilikinya, motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis, dan

(2) Faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan

3. Data Penelitian

Data penelitian adalah informasi hasil belajar siswa dengan menerapkan  strategi belajar peta konsep dan tanpa menerapkan peta konsep. Informasi tersebut kemudian dibandingkan antara hasil belajar siswa dengan menerapkan strategi peta konsep dan tanpa menerapkan strategi peta konsep, sehingga dapat diketahui pengaruh strategi belajar peta konsep terhadap hasil belajar siswa

 

  1. F. Definisi dan Asumsi

a. Definisi Operasional Variabel

  • Variabel bebas

Variabel bebas adalah variabel yang menjadi penyebab berubahnya variabel lain.disebut juga variable  manipulasi. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah strategi belajar peta konsep.

Definisi operasional variabel bebas:

Peta konsep merupakan perwakilan visual (melalui penglihatan) atau organisator grafik tentang hubungan-hubungan antara konsep-konsep tertentu (Nur,2000:3)

  • Variabel terikat

Variabel terikat adalah variabel yang timbul akibat dari variabel bebas.Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa pada akhir pembelajaran.

Definisi operasional variabel terikat: Hasil belajar siswa adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya,dalam hal ini setelah pengalama pembelajaran dengan strategi peta konsep

 

  • Variabel kontrol

Variabel kontrol adalah faktor-faktor yang dikontrol untuk meniadakan pengaruh variabel bebas dan variabel terikat. Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah pengajar, materi ajar cahaya dan alat optik, dan model pembelajaran langsung.

Definisi operasional variabel kontrol:

ü  Pengajar adalah seorang guru yang memberikan pelajaran dalam kelas.

ü  Cahaya dan alat optik  adalah materi mata pelajaran fisika yang mempelajari pengertian cahaya,sifat-sifat sifat cahaya dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

ü  Model pembelajaran langsung adalah Model pembelajaran yang digunakan untuk membelajarkan siswa tentang pengetahuan yang terstruktur dengan baik dan dapat diajarkan selangkah demi langkah yang dapat membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan tahap demi tahap. (Nur M, 2005: 36)

 

b.  Asumsi

Agar penelitian ini dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya, maka dalam penelitian ini diasumsikan beberapa hal, yaitu:

 

  • Guru dan siswa merespon instrumen penelitian dengan dilandasi sifat jujur, terbuka, dan objektif.
  • Nilai hasil tes dan pembuatan peta konsep menggambarkan hasil kemampuan siswa yang sebenarnya.

 

  1. II. KAJIAN TEORI

1. Peta Konsep

Posner dan Rudnitsky dalam Nur (2000b: 36) menyatakan bahwa peta konsep mirip peta jalan, namun peta konsep menaruh perhatian pada hubungan antar ide-ide, bukan hubungan antar tempat. Peta konsep bukan hanya meggambarkan konsep-konsep yang penting melainkan juga menghubungkan antara konsep-konsep itu. Untuk membuat suatu peta konsep, siswa dilatih untuk mengidentifikasi ide-ide kunci yang berhubungan dengan suatu topik dan menyusun ide-ide tersebut dalam suatu pola logis.

Menurut Nur (2000b : 25) terdapat empat jenis strategi belajar yang utama yaitu

a.  Strategi-strategi mengulang

b.  Strategi-strategi elaborasi

c.   Strategi-strategi organisasi

d.  Strategi-strategi metakognitif

 

Peta konsep merupakan salah satu bagian dari strategi organisasi. Strategi organisasi bertujuan membantu pebelajar meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan organisasi bertujuan membantu pebelajar meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan baru, terutama dilakukan dengan mengenakan struktur-struktur pengorganisasian baru pada bahan-bahan tersebut. Strategi-strategi organisasi dapat terdiri dari pengelompokan ulang ide-ide atau istilah-istilah atau membagi ide-ide atau istilah-istilah itu menjadi subset yang lebih kecil. Strategi- strategi ini juga terdiri dari pengidentifikasian ide-ide atau fakta-fakta kunci dari sekumpulan informasi yang lebih besar.

Pemetaan konsep merupakan suatu alternatif selain outlining, dan dalam beberapa hal lebih efektif daripada outlining dalam mempelajari hal-hal yang lebih kompleks. Peta konsep digunakan untuk menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep-konsep dalam bentuk proposisi-proposisi. Proposisi merupakan dua atau lebih konsep yang dihubungkan oleh kata-kata dalam suatu unit semantik (Novak dalam Dahar 1988: 150).

Dahar (1988: 153) mengemukakan ciri-ciri peta konsep sebagai berikut:

1)   Peta konsep (pemetaan konsep) adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsep-konsep dan proposisi-proposisi suatu bidang studi, apakah itu bidang studi fisika, kimia, biologi, matematika dan lain-lain. Dengan membuat sendiri peta konsep siswa “melihat” bidang studi itu lebih jelas, dan mempelajari bidang studi itu lebih bermakna.

2)  Suatu peta konsep merupakan suatu gambar dua dimensi dari suatu bidang studi atau suatu bagian dari bidang studi. Ciri inilah yang memperlihatkan hubungan-hubungan proposisional antara konsep-konsep. Hal inilah yang membedakan belajar bermakna dari belajar dengan cara mencatat pelajaran tanpa memperlihatkan hubungan antara konsep-konsep.

3)   Ciri yang ketiga adalah mengenai cara menyatakan hubungan antara konsep-konsep. Tidak semua konsep memiliki bobot yang sama. Ini berarti bahwa ada beberapa konsep yang lebih inklusif dari pada konsep-konsep lain.

4)   Ciri keempat adalah hirarki. Bila dua atau lebih konsep digambarkan di bawah suatu konsep yang lebih inklusif, terbentuklah suatu hirarki pada peta konsep tersebut.

Peta konsep dapat menunjukkan secara visual berbagai jalan yang dapat ditempuh dalam menghubungkan pengertian konsep di dalam permasalahanya. Peta konsep yang dibuat murid dapat membantu guru untuk mengetahui miskonsepsi yang dimiliki siswa dan untuk memperkuat pemahaman konseptual guru sendiri dan disiplin ilmunya. Selain itu peta konsep merupakan suatu cara yang baik bagi siswa untuk memahami dan mengingat sejumlah informasi baru (Arends, 1997: 251).

Menurut Dahar (1988:154) peta konsep memegang peranan penting dalam belajar bermakna. Oleh karena itu siswa hendaknya pandai menyusun peta konsep untuk meyakinkan bahwa siswa telah belajar bermakna. Langkah-langkah berikut ini dapat diikuti untuk menciptakan suatu peta konsep.

Langkah 1: mengidentifikasi ide pokok atau prinsip yang melingkupi sejumlah konsep.

Langkah 2: mengidentifikasi ide-ide atau konsep-konsep sekunder yang menunjang ide  utama

Langkah 3: menempatkan ide utama di tengah atau di puncak peta tersebut

Langkah 4: mengelompokkan ide-ide sekunder di sekeliling ide utama yang secara visual menunjukan hubungan ide-ide tersebut dengan ide utama.

Berdasarkan pendapat di atas dapat dikemukakan langkah-langkah menyusun peta konsep sebagai berikut:

1)  Memilih suatu bahan bacaan

2)  Menentukan konsep-konsep yang relevan

3)  Mengelompokkan (mengurutkan) konsep-konsep dari yang paling inklusif ke yang   paling tidak inklusif

4)  Menyusun konsep-konsep tersebut dalam suatu bagan, konsep-konsep yang paling inklusif diletakkan di bagian atas atau di pusat bagan tersebut.
Dalam menghubungkan konsep-konsep tersebut dihubungkan dengan kata hubung. Misalnya “merupakan”, “dengan”, “diperoleh”, dan lain-lain.

 

Bentuk tes pada umumnya seperti pilihan ganda yang selama ini dipandang sebagai alat ukur (uji) keberhasilan siswa dalam menempuh jenjang pendidikan tertentu, bukanlah merupakan satu-satunya alat ukur yang dapat digunakan untuk menentukan keberhasilan siswa. Tingkat keberhasilan siswa dalam menyerap pengetahuan sangat beragam, maka diperlukan alat ukur yang beragam pula. Peta konsep adalah salah satu bentuk penilaian kinerja yang dapat mengukur siswa dari sisi yang berbeda. Penilaian kinerja adalah bentuk penilaian yang digunakan untuk menilai kemampuan dan keterampilan siswa berdasarkan pada pengamatan tingkah lakunya selama melakukan penilaian terhadap hasil kerja siswa selama kegiatan.

Menurut Nur (2000:3) peta konsep ada empat macam ,yaitu pohon jaringan (network tree), rantai kejadian (events chain), peta konsep siklus (cycle concept map), dan peta konsep laba-laba (spider concept map)

  1. a. Pohon Jaringan

Dalam peta konsep pohon jaringan ide-ide pokok dibuat dalam persegi empat, sedangkan beberapa kata lain dihubungkan oleh garis penghubung.Kata-kata dalam persegi empat adalah ide-ide pokok. Sedangkan kata-kata pada garis penghubung memberikan hubungan antara konsep-konsep.

Gambar 1 Pohon jaringan yang memerikan alat optik

(Karim, 2008:308)

Pada saat mengkonstruksi suatu pohon jaringan, tulislah topik itu dan daftar konsep-konsep utama yang berkaitan dengan topik itu. Daftar dan mulailah dengan menempatkan ide-ide atau konsep-konsep dalam suatu susunan dari umum ke khusus. Cabangkan konsep-konsep yang berkaitan itu dari konsep utama dan berikan
hubungannya pada garis-garis itu

Pohon jarinagn cocok digunakan untuk memvisualisasi hal-hal berikut ini.

1.  Menunjukkan informasi sebab-akibat

  1. Suatu hierarkhi
  2. Prosedur yang bercabang
  3. Istilah-istilah yang berkaitan yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan-hubungan

 

  1. b. Rantai Kejadian

Nur (2000:5) mengatakan bahwa peta konsep rantai kejadian dapat digunakan untuk memerikan suatu urutan kejadian, langkah-langkah dalam suatu prosedur, atau tahap-tahap dalam suatu proses. Misalnya dalam melakukan eksperimen.

 

 

Gambar 2. Tahap-tahap

dalam suatu eksperimen

(Nur 200:5)

 

 

Rantai kejadian cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal:

1. Memerikan tahap-tahap suatu proses

2. Langkah-langkah dalam suatu prosedur

3. Suatu urutan kejadian

 

  1. c. Peta Siklus

Suatu peta konsep siklus adalah suatu peta rantai kejadian yang khusus. Dalam peta konsep siklus, rangkaian kejadian tidak menghasilkan suatu hasil akhir. Kejadian akhir pada rantai itu menghubungkan kembali ke kejadian awal. Seterusnya kejadian akhir itu menhubungkan kembali ke kejadian awal siklus itu berulang dengan sendirinya dan tidak ada akhirnya. Peta konsep siklus cocok diterapkan untuk menunjukan hubungan bagaimana suatu rangkaian kejadian berinteraksi untuk menghasilkan suatu kelompok hasil yang berulang-ulang.

 

Gambar 3. Skema perubahan wujud zat (Winarsih  2008:69)

 

 

  1. d. Peta Konsep Laba-laba

Peta konsep laba-laba dapat digunakan untuk curah pendapat. Dalam melakukan curah pendapat ide-ide berasal dari suatu ide sentral, sehingga dapat memperoleh sejumlah besar ide yang bercampur aduk. Banyak dari ide-ide tersebut berkaitan dengan ide sentral namun belum tentu jelas hubungannya satu sama lain. Kemudian Kita dapat memulainya dengan memisah-misahkan dan mengelompokkan istilah-istilah menurut kaitan tertentu sehingga istilah itu menjadi lebih berguna dengan menuliskannya di luar konsep utama.

 

Gambar 4. Peta laba-laba tentang sinar matahari

 

 

Peta konsep laba-laba cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal:

1. Tidak menurut hirarki, kecuali berada dalam suatu kategori

2.  Kategori yang tidak paralel

3.  Hasil curah pendapat

 

2. Model pembelajaran langsung

Model pembelajaran langsung merupakan suatu model mengajar yang dapat membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan tahap demi tahap.

Menurut Nur, (2000:3) dijelaskan bahwa Model Pengajaran Langsung memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  • Adanya tujuan pengajaran dan pengaruh model pada siswa termasuk prosedur penilaian hasil belajar.
  • Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pengajaran.
  • Sistem pengelolaan lingkungan belajar model yang diperlukan agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung secara berhasil.

Pada umumnya, para ahli membedakan dua macam pengetahuan dalam model pembelajaran langsung, yaitu pengetahuan deklaratif  dan prosedural. Pengetahuan deklaratif merupakan pengetahuan tentang sesuatu, sedangkan pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu

Model pembelajaran langsung atau Direct Instruction merupakan suatu pendekatan mengajar yang dapat membantu siswa dalam mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah. Pendekatan mengajar ini sering disebut Model Pengajaran Langsung (Kardi dan Nur,2000a :2). Arends (2001:264) juga mengatakan hal yang sama yaitu :”A teaching model that is aimed at helping student learn basic skills and knowledge that can be taught in a step-by-step fashion. For our purposes here, the model is labeled the direct instruction model”. Apabila guru menggunakan model pengajaran langsung ini, guru mempunyai tanggung jawab untuk mengudentifikasi tujuan pembelajaran dan tanggung jawab yang besar terhadap penstrukturan isi/materi atau keterampilan, menjelaskan kepada siswa, pemodelan/mendemonstrasikan yang dikombinasikan dengan latihan, memberikan kesempatan pada siswa untuk berlatih menerapkan konsep atau keterampilan yang telah dipelajari serta memberikan umpan balik.            Model pembelajaran langsung terdiri dari lima fase,yaitu

Tabel 1

fase pembelajaran langsung

 

Dengan demikian model pembelajaran langsung merupakan model yang dirancang secara khusus untuk mengembangkan kegiatan belajar siswa mengenai pengetahuan deklaratif yaitu pengetahuan tentang sesuatu dan pengetahuan prosedural yaitu pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu.

 

3. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu:

(1) Faktor dari dalam diri siswa, meliputi kemampuan yang dimilikinya, motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis, dan

(2)  Faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan,terutama kualitas pengajaran.

Gagne mengungkapkan ada lima kategori hasil belajar yakni informasi verbal, kecakapan intelektual, strategi kognitif, sikap, dan keterampilan.Sementara Bloom mengungkapkan tiga kawasan tujuan pengajaran yang merupakan kemampuan seseorang yang harus dicapai dan merupakan hasil belajar yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Beberapa fungsi hasil belajar antara lain :

(1) Hasil belajar sebagai indikator kuantitas dan kualitas pengetahuan   yang telah dikuasai oleh siswa

(2) Hasil belajar sebagai lambang pemuas hasrat ingin tahu

(3) Hasil belajar sebagai bahan informasi   dalam inovasi pendidikan, asumsinya bahwa hasil belajar dapat dijadikan pendorong bagi siswa dalam meningkatkan IPTEK serta berperan sebagai umpan balik dalam meningkatkan mutu pendidikan.

4. Materi Cahaya dan alat Optik

  1. a. Cahaya

Cahaya merupakan energi berbentuk gelombang elektromagnetik. Cahaya dapat merambat dalam ruang hampa dengan cepat rambat cahaya sebesar 3×108 m/s. Cahaya diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Benda-benda yang dapat memancarkan cahaya disebut sumber cahaya. Adapun sumber cahaya utama di bumi adalah matahari.

  1. b. Sifat-sifat cahaya
  2. Cahaya merambat lurus

Apabila kita berada di dalam ruangan yang gelap sehingga cahaya tidak dapat masuk,kemudian ruangan tersebut kita beri lubah kecil, maka cahaya akan dapat masuk dan akan membentuk sinar yang lurus, dapat kita buktikan juga melalui sebuah percobaan sederhana.Cahaya yang dihasilkan oleh sebuah kotak sumber cahaya kemudian melewati 4 buah layar yang diberi lubang.Posisi lubang pada layar adalah berada pada satu garis lurus,maka cahaya akan dapat keluar dari lubang pada layar terakhir.

 

 

Gambar 5 : Cahaya merambat dengan lintasan lurus pada sebuah lubang di suatu ruangan (Karim 2008:275)

 

  1. Mengalami Pemantulan

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak dapat melihat suatu benda jika tidak ada cahaya. Hal ini dikarenakan tidak ada cahaya yang dipantulkan ke mata oleh suatu benda.Ketika cahaya menimpa permukaan benda, sebagian cahaya dipantulkan. Sisanya diserap oleh benda (dan diubah menjadi energi panas).Hal inilah yang menyebabkan kita dapat melihat bendaa-benda yang ada di sekitar kita.

 

  1. Mengalami Pembiasan

Ketika cahaya melintas dari suatu medium ke medium lainnya, sebagian cahaya datang dipantulkan pada perbatasan. Sisanya lewat ke medium yang baru. Jika seberkas cahaya datang dan membentuk sudut terhadap permukaan (bukan hanya tegak lurus), berkas tersebut dibelokkanpada waktu memasuki medium yang baru. Pembelokan  ini dinamakan pembiasan.Contoh peristiwa pembiasan adalah ketika kita memasukkan sebuah benda di dalam gelas yang berisi air maka benda tersebut akan terlihat patah.

 

 

Gambar 6.   Pensil tampak patah ketika tercelup air

 

 

 

 

  1. 4. Mengalami Penguraian/Dispersi

 

Cahaya tampak  merupakan cahaya polikromatis,artinya apabila diuraikan akan menghasilkan spectrum cahaya pelangi yang terdiri dari beberapa warna monokromatis.Warna-warna tersebut masing-masing mempunyai panjang gelombang yang berbeda-beda.Pada saat seberkas cahaya putih masuk mengenai sebuah permukaan prisma kaca pada bebrapa sudut, sudut bias untuk panjang gelombang yang lebih pendek yang mendekati ujung ungu dari spectrum cahaya tampak sedikit lebih besar dari sudut bias untuk panjang gelombang yang menuju ujung merah pada spectrum cahaya tampak tersebut.Cahaya dengan panjang gelombang lebih pendek dibelokkan lebih besar dari cahaya dengan panjang gellombang lebih panjang.Berkas cahaya putih disebar ke dalam warna-warna komponen atau panjang gelombang-panjang gelombang. Peristiwa penguraian cahaya putih menjadi komponen-komponen warna ini disebut penguraian (dispersi).Peristiwa alam yang merupakan contoh dari dispersi adalah pelangi.

Gambar 7. Dispersi pada prisma

  1. c. Pemantulan Cahaya

Ketika cahaya menimpa permukaan benda, sebagian cahaya dipantulkan. Sisanya diserap oleh benda (dan diubah menjadi energi panas) atau jika benda tersebut transparan seperti kaca atau air, sebagian diteruskan. Untuk benda-benda yang sangat mengkilat seperti cermin berlapis perak, lebih dari 95 persen cahaya bisa dipantulkan.

Ketika gelombang dari tipe apapun mengenai sebuah penghalang datar seperti misalnya sebuah cermin, gelombang-gelombang baru dibangkitkan dan bergerak menjauhi penghalang tersebut.Peristiwa inilah yang merupakan peristiwa pemantulan.Pemantulan terjadi antar bidang batas antara dua medium berbeda.

 

 

 

 

 

 

Gambar 8 : Hukum pemantulan (Pratiwie dkk 2008:359)

 

Hubungan antara sinar datang, sinar pantul, sudut datang, sudut pantul diselidiki oleh Willebrord Snellius, dan disebut sebagai hukum pemantulan, yakni :

  1. Sinar datang, sinar pantul dan garis normal terletak pada satu bidang datar.
  2. Sudut datang sama dengan sudut pantul.

Menurut arah sinar pantulnya pemantulan cahaya dibedakan menjadi dua jenis,yaitu

1) Pemantulan teratur

Pemantulan teratur terjadi jika seberkas cahaya sejajar mengenai suatu permukaan benda yang rata, misalnya permukaan cermin datar, maka cahaya tersebut akan dipantulkan dengan arah tertentu secara teratur seperti gambar 9. Sehingga pemantulan cahaya hanya ke satu arah saja disebut pemantulan teratur.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 9 : Jalan sinar pada pemantulan teratur

(Pratiwie,dkk 2008:359)

Cermin merupakan alat yang dapat memantulkan hampir seluruh cahaya yang mengenainya. ada tiga macam, yaitu cermin datar, cermin cekung, dan cermin cembung.

Jika dua buah cermin datar disusun sehingga membentuk sudut α maka akan diperoleh beberapa buah bayangan. Banyak bayangan yang terbentuk antara dua cermin dapat dinyatakan dalam persamaan berikut.

Keterangan:

n : banyaknya bayangan yang terbentuk

α : sudut yang diapit oleh kedua cermin

m = 1 jika hasilnya bilangan genap

m = 0 jika hasilnya bilangan ganjil

 

 

 

 

 

2) Pemantulan Baur

Pemantulan baur terjadi apabila seberkas cahaya sejajar mengenai permukaan benda tidak rata, maka cahaya tersebut dipantulkan ke segala arah secara tidak beraturan seperti gambar 10.Dengan demikian  pemantulan baur adalah pemantulan cahaya ke segala arah secara tidak beraturan.

Gambar 10 : Jalan sinar pada pemantulan baur

(Pratiwie,dkk 2008:359)

 

 

 

 

 

 

III. METODE PENELITIAN

  1. 1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan Penelitian Eksperimen yang dilakukan percobaan untuk menguji hipotesis Dalam penelitian ini, digunakan subyek yang berbeda, yaitu kelas kontrol (proses belajar mengajar hanya mnggunakan model pembelajaran langsung) dan kelas eksperimen (proses belajar mengajar menerapkan strategi belajar peta konsep dalam model pembelajaran langsung). Untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran dilakukan pre-test dan post-test.

 

  1. 2. Waktu dan Lokasi Penelitian

Tempat penelitian ini adalah SMP Negeri 1 Ponorogo  di Jalan Soekarno-Hatta nomor 82 Ponorogo pada semester genap dan pengambilan data dilakukan pada bulan April 2010.

 

  1. 3. Subjek Penelitian

a. Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII di SMP Negeri 1Ponorogo  yang terdiri dari 9 kelas. Dari populasi tersebut diambil 60 siswa yang terbagi dalam 2 kelas yang sama rata

  1. b. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 2 kelas, satu kelas sebagai kelas kontrol dan satu kelas sebagai kelas eksperimen.

Pada penelitian ini, pembagian sampel menjadi 2 kelompok, yaitu:

kelompok 1: sebagai kelas eksperimen yaitu yang deberi perlakuan pelaksanaan pembelajaran langsung dengan menggunakan strategi belajar peta konsep.

kelompok 2: sebagi kelas kontrol yaitu yang diajar dengan model pembelajaran langsung tanpa menggunakan strategi belajar peta konsep.

 

 

  1. 4. Rancangan Penelitian

Dalam penelitian ini, digunakan subyek yang berbeda, yaitu kelas kontrol (proses belajar mengajar hanya mnggunakan model pembelajaran langsung) dan kelas eksperimen (proses belajar mengajar menerapkan strategi belajar peta konsep dalam model pembelajaran langsung). Untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran dilakukan pre-test dan post-test.

 

 

Tabel 3: Skema rancangan penelitian

Keterangan:

YA1  :  hasil pre-test kelompok eksperimen

YB1 :  hasil pre-test kelompok kontrol

X1     : jenis perlakuan dengan menerapkan  strategi belajar peta konsep

X2       : jenis perlakuan tanpa menerapkan strategi belajar peta konsep

YA2  :  hasil post-test kelompok eksperimen

YB2  :  hasil post-test kelompok kontrol

 

  1. 5. Prosedur Penelitian

Prosedur pengambilan data dibagi menjadi beberapa tahap

  1. Tahap persiapan, sebelum dilakukan penelitian, peneliti melakukan:

1)    Observasi kelas secara langsung, bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kelas yang akan diteliti melalui wawancara dengan guru bidang study fisika.

2)    Menyusun instrument, berupa silabus, RPP,LKS, lembar pre-test dan post-test, lembar pengamatan, rubrik dan angket.

  1. Tahap memberikan tes awal (pre-test) sebelum pembelajaran dimulai, bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa
  2. Tahap kegiatan dan pengamatan, yaitu kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan strategi belajar peta konsep  pada materi pokok cahayta dan alat optik
  3. Tahap memberikan tes akhir (post-test), bertujuan untuk mengevaluasi keberhasilan siswa dalam memahami materi yang disampaikan dengan strategi belajar peta konsep pada materi cahaya dan alat optik
  4. Memberikan angket kepada siswa untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran dengan menerapkan strategi belajar peta konsep.
  5. Melakukan analisis data dan uji statistik terhadap data yang telah diperoleh
  6. Menyusun laporan penelitian

 

  1. 6. Instrumen Penelitian

Instrument penelitian adalah seperangkat alat yang digunakan dalam pengambilan data:

a.  Instrument pembelajaran

Instrumen pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah RPP , LKS (Lembar Kegiatan Siswa), silabus, rubrik, lembar pre-test dan post-test. Lembar pengamatan pengelolaan penerapan strategi belajar peta konsep dalam model pembelajaran langsung.

  1. Tes hasil belajar

Instrument yang disusun adalah item test yang digunakan untuk memperoleh data tentang hasil belajar siswa dari masing-masing kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Bentuk test yang digunakan adalah soal objektif yang  telah diujicobakan terlebih dahulu.

  1. Angket

Angket diberikan kepada siswa untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran yang telah dilakukan dengan menerapkan syrategi belajar peta konsep dalam model pembelajaran langsung.

  1. 7. Prosedur Pengambilan Data

Dalam penelitian ini pengumpulkan data dilakukan dengan beberapa metode, yaitu :

a. Metode observasi

Metode observasi adalah teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dengan tujuan untuk mengetahui keterlaksanaan proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Observasi dilakukan oleh orang ketiga selain peneliti dan dilakukan pada saat peneliti melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan strategi belajar peta konsep  pada materi pokok cahaya dan alat optic kelas VIII RSBI SMP N 1 Ponorogo.

  1. Metode tes

Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunto, 2006: 150).

Tes yang dalam penelitian ini adalah pretest yang dilakuakan pada awal penelitian dan posttest yang diberikan pada akhir proses pembelajaran.

  1. Metode angket

Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal – hal yang ia ketahui (Suharsimi Arikunto, 2006: 151).

Metode angket digunakan untuk mengetahui respon siswa terhadap penerapan strategi belajar peta konsep dalam proses pembelajaran.

 

  1. 8. Analisis

a. Analisis instrumen penelitian

1.Analisis angket, lembar observasi, rancangan pelaksanaan pembelajaran

 

Validasi ini untuk instrumen ini dianalisis secara deskriptif (analisis dengan hanya memperhatian saran atau pendapat dari yang bersangkutan) untuk mengetahui validitas isi dan konstruksi soal tes hasil belajar.

 

2. Analisis validitas butir soal

Validitas adalah ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan dan kesahihan dalam instrumen. Analisis untuk mengetahui validitas butir soal ini peneliti menggunakan korelasi product moment menggunakan angka kasar dengan rumus sebagai berikut :

 

 

…. (1)

Dimana :

X= Skor item

Y = Skor total

N = Jumlah siswa

∑X = Jumlah skor item (butir soal)

∑Y=Jumlah skor total

 

Dari perhitungan validitas butir soal akan diperoleh kriteria koefisien korelasi validitas sebagai berikut :

0,80 – 1,00 : Sangat tinggi

0,60 – 0,80 : Tinggi

0,40 – 0,60 : Cukup

0,20 – 0,40 : Rendah

0,00 – 0,20 : Sangat rendah

Hasil perhitungan rxy dibandingkan dengan nilai r pada tabel. Butir soal dikatakan valid jika rxy > rtabel.

(Suharsimi Arikunto, 2009:75)

 

  1. Analisis reabilitas butir  soal

Dalam mencari reabilitas, peneliti menggunakan  rumus Spearman-Brown dengan cara belahan awal-akhir. (Suharsimi Arikunto, 2006: 181).

Untuk menghitung reliabilitas separo tes (r1/21/2) digunakan rumus sebagai berikut :

 

….. (2)

Dimana :

X = Skor item belahan awal

Y = Skor item belahan akhir

N = Jumlah siswa

∑X= Jumlah skor item

∑Y= Jumlah skor total

(Suharsimi Arikunto, 2006:183).

 

Kemudian untuk mengetahui reliabilitas seluruh tes, digunakan rumus :

 

….(3)

Dimana :

r1/2 1/2 = Korelasi antara dua belahan instrumen

r11 = Koefisien reliabilitas instrumen

Apabila r hitung > r tabel maka tes dikatakan  reliabel.

(Suharsimi Arikunto, 2006:180).

 

  1. Daya Beda Tes

Indeks deskriminasi (daya pembeda) ini berkisar antara 0,00 sampai 1,00. Rumus untuk menentukan deskriminasi adalah:

D = = PA – PB ……………..(4)

(Suharsimi Arikunto, 2009:213)

 

Keterangan:

J       = jumlah peserta tes

JA = banyaknya peserta kelompok atas

JB = banyaknya peserta kelompok bawah

BA = banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu   dengan benar

BB = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan benar

PA = BA/JA = proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar

PB = BB/JB = propersi peserta kelompok bawah yang menjawab benar

Tabel 2

Penafsiran Daya Pembeda Tes

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Suharsimi Arikunto , 2009:218)

 

  1. Taraf Kesukaran

Besarnya indeks kesukaran antara 0,00 sampai 1,00. Indeks kesukaran ini menunjukkan taraf kesukaran soal. Rumus untuk mencari indeks kesukaran:

 

(Suharsimi Arikunto, 2009:210)

Keterangan:

P = indeks kesukaran

B = banyaknya siswa yang menjawab   soal dengan benar

Js = jumlah seluruh siswa peserta tes

 

b. Analisis Data Penelitian

1. Analisis Angket

Untuk mengetahui berbagai responsiswa tentang penerapan strategi belajar peta konsep dapat dilihat dari rata-rata prosentase jawaban dukungan  dan hambatan yang dihadapiguru dan siswa. Data yang diperoleh dapat dihitung prosentasenya dengan menggunakan rumusan sebagai berikut :

(Sudjana, 2004:129)

Keterangan :

P               : Prosentase jawaban responden

F               : Jumlah jawaban responden

N              : Jumlah responden

  1. 2. Analisis Hasil Belajar

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji-t, sebelum dikenai uji-t terlebih dahulu dikenakan uji normalitas untuk hasil pre-test, karena sebelum digunakan uji-t sampel harus dalam keadaan terdistribusi normal. Setelah syarat tersebut terpenuhi maka uji-t dapat dilakukan untuk hasil post-test sampel. Dengan demikian langkah-langkah pengujian hipotesis adalah sebagai berikut:

 

1)       uji normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui data terdistribusi normal atau tidak. Langkah-langkahnya adalah sebagi berikut:

a)    menyusun hipotesis

Ho :sampel random berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

Hi : sampel random berasal dari populasi yang tak berdistribusi normal.

b)    menentukan taraf signifikan

c)    menyusun data dalam distribusi frekuensi kemudian menentukan mean dan standar deviasi

d)    menyusun harga untuk batas atas, luas tiap interval frekuensi harapan dan frekuensi observasi

e)    menghitung statistik chi kuadrat

 

f)     menentukan kriteria

Ho ditolak jika x2hitung > x2tabel

g)    menarik kesimpulan

 

2)       Uji homogenitas

Digunakan untuk mengetahui apabila sampel yang diambil bersifat homogen atau belum maka dalam hal ini dilakun pengujian kesamaan dua varians. Langkah-langkahnya adalah :

a)    menyusun hipotesis

b)    menentukan taraf signifikan a= 0,05

c)    menghitung besarnya F dengan

 

(Sudjana, 2002:303)

 

d)    menentukan kriteria pengujian

mencari nilai F < F1/2 a (V1,V2) dalam keadaan lain Ho ditolak

e)    mencari nilai F1/2 a (V1,V2)

f)     menarik kesimpulan

 

3)       uji hipotesis

Setelah terbukti sampel berdistribusi normal, dan homogen baru dilakukan uji hipotesis dengan uji t. langkah-langkahnya sebagai berikut :

a)    menentukan hipotesis

b)    menentukan taraf signifikan a= 0,05

c)    menentukan kriteria

Ho diterima bila t(1-0,5a) < t > t(1-0,5a)

Dengan dk= n1 + n2-2 dalam keadaan lain Ho di tolak

d)    menghitung statistik dengan rumus

(Sudjana, 2002:239)

 

x1 :  rata-rata skor tes kelompok eksperimen

x2 :  rata-rata skor tes kelompok kontrol

S: simpangan baku gabungan antara   kelompok eksperimen dan kelompok kontrol

n1 :banyaknya data kelompok eksperimen

n1 : banyaknya data kelompok control

 

e)    menarik kesimpulan

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Arikuntho,Suharsimi.2006.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.Jakarta:PT Rineka Cipta

Giancoli, Douglas C. 2001. FISIKA Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Karim, Saeful.2008.Belajar IPA : membuka cakrawala alam sekitar 2 untuk kelas VII SMP/MTs. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional

Munthe,Bermawi.2009.Desain Pembelajaran.Yogyakarta : PT Pustaka Insan Madani

Nur,Muhammad.2000.Buku Panduan Keterampilan Proses dan Hakikat Sains.Surabaya : UNESA University Pers

Nur,Muhammad.2000b.Strategi-Strategi Belajar.Surabaya : UNESA University Pers

Prabowo. 1998. METODOLOGI PENELITIAN. Surabaya: UPRESS UNESA.

Sudjana. 2002. Metode Statistik. Bandung: PT Tarsito.

Tipler, Paul. 2001. FISIKA Untuk Sains dan Teknik Edisi Ketiga Jilid 2. Jakarta: Erlangga

Winarsih, Anni.2008.IPA TERPADU : SMP/MTs VII. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional

http://fisika21.wordpress.com/2010/07/11/peta-konsep-mempermudah-konsep-sulit-dalam-pembelajaran/ (diakses pada tanggal 7 November 2010)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s