bentuk-bentuk tes

 

A.TES LISAN

Pada dasarnya tes lisan sama dengan tes uraian, perbedaannya terletak pada pelaksanaannya. Tes lisan dilakukan dalam suatu komunikasi langsung antara tester dan testi.

Tes lisan digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar berupa kemampuan untuk mengemukakan pendapat-pendapat atau gagasan-gagasan secara lisan. Jika bahan ajar yang diajukan sama maka ideal sekali kalau siswa mendapat perangkat soal yang sama, tetapi hal ini sulit untuk dilakukan secara serempak terhadap semua testi oleh tester yang sama.

Adapun keunggulan-keunggulan dan kelemahan dari tes lisan adalah :

Keunggulan :

1.Mengukur kemampuan berpikir taraf tinggi secara lebih leluasa.

2. Memungkinkan untuk melakukan pengecekan

3. Tak ada kesempatan untuk menyontek

Kelemahan :

1. Lebih memungkinkan untuk terjadinya ketidakadilan

2. Memungkinkan penguji untuk menyimpang dari lingkup bahan ajar yang diujikan

3. Membutuhkan waktu yang relatif lebih lama

4. Memerlukan banyak format intrumen

5. Peluang subjektivitas dalam penilaian lebih terbuka.

B.TES TERTULIS

Tes tertulis Pada dasarnya ada dua bentuk soal tes tertulis yang lazim kita gunakan yakni: tes uraian dan tes objektif.

1. TES OBJEKTIF

Tes ini dikenal dengan istilah tes jawaban pendek, tes “ya-tidak” dan tes model baru, adalah salah satu jenis tes hasil belajar yang terdiri dari butir-butir soal yang dapat dijawab testee dengan jalan memilih salah satu diantara beberapa kemungkinan jawaban yang telah dipasangkan pada masing-masing item atau dengan cara menuliskan jawabannya berupa kata-kata atau simbol-simbol tertentu pada tempat yang telah disediakan untuk masing-masing butir item yang bersangkutan.

Suatu tes yang soal-soalnya terdiri dari atas butir-butir soal bentuk objektif.

Tes Objektif berbeda dengan tes uraian, tugas-tugas dan persoalan-pesoalan dalam tes objektif sudah terstruktur, sehingga jawaban terhadap soal-soal tersebut sudah dapat ditentukan secara pasti.

Keunggulan Tes Objektif

  1. Waktu yang dibutuhkan relative lebih singkat
  2. Panjang pendeknya suatu tes (banyak sedikitnya butir soal) bisa berpengaruh terhadap kadar reliabilitas
  3. Proses pensekoran dapat dilakukan secara mudah karena kunci jawaban dapat dibuat secara pasti
  4. Proses penilaian dapat dilakukan secara objektif karena kunci jawaban sudah dapat ditentukan secara pasti.

Kelemahan Tes Objektif

  1. Terdapat kemungkinan untuk dapat menebak jawaban dengan tepat. Tidak dapat mengetahui jalan pikiran testi dalam menjawab suatu pesoalan.
  2. Membatasi kreativitas siswa dalam menyusun jawaban sendiri.
  3. Bahan ajar yang diungkap dengan ts objektif, pada umumnya lebih terbatas pada hal-hal yang factual.

Tes Objektif dibagi lagi menjadi 4 yaitu tes benar-salah,tes mencocokkan,tes uraian singkat (melengkapi),dan tes pilihan ganda.

a.  tes benar-salah

Butir sosl benar salah (true – false item ) adalah soal yang terdiri dari pernyataan penyataan (statemen) yang disertai dengan alternatif jawaban. Pernyataan tersebut adalah benar salah Peserta tes trsebut tinggal menyilang atau melingkari huruf B jika pernyataan menurut pendapat benar dan huruf S jika salah.Banyak hal yang harus diperhatikan dalam membuat soal benar salah agar mendapatkan butir soal yang baik.

Keunggulan Tes Benar Salah

  1. Mudah dikonstruksi   karena hanya membutuhkan satu pertanyaan .Pernyataan itu saja harus berhubungan dengan bidang studi yang harus di uji

b.  Soal benar salah harus dapat mewakili seluruh  pokok bahasan karena soal ini hanya meminta waktu yang singkat untuk menjawabnya.Dalam waktu singkat siswa harus banyak menjawab soal

  1. Mudah diskor karena untuk setiap soal hanya ada dua alternatif jawaban

d.  Merupakan bentuk soal yang baik untuk mengukur fakta dan hasil belajar langsung terutama yang berkenaan dengan ingatan

  1. Dapat digunakan berulang kali
  2. Dapat dikoreksi secara cepat dan objektif

g.  Petunjuk pengerjaannya mudah dimengerti

Kelemahan Tes Benar Salah

  1. Mendorong Siswa untuk menebak jawaban .Kemungkinan jawaban benar sama dengan kemungkinan jawaban salah sehingga kemungkinan diswa untuk menebak lebih besar

b.  Terlalu menkan pada asoek ingatan .Kurang dapat mengukur aspek pengetahuan yang lebih tinggi . Kekemahan ini lebih buruk kalau penyusun soalmengutip langsung dari pernyataan yang  pada buku ajar yang digunakan

  1. Banyak masalah yang tidak dapat dinyatakan hanya dengan dua kemungkinan benar atau salah

d.  Meminta responh dari siswa yang berbentuk peenilaian mutlak

Contoh soal tes benar salah :

Isilah dengan huruf B jika benar dan huruf S jika salah,untuk setiap pernyataan berikut!

1. (………) Bila cepat rambat bunyi di udara 350 m/s menempuh jarak 2100 m.maka waktu yang diperlukan dari sumber bunyi untuk merambat adalah 6 sekon.

b. tes mencocokkan

Tes mencocokkan (Matching Test) adalah suatu bentuk tes yang terdiri dari dua kolom yang parallel dimana masing-masing kolom berisi uraian-uraian, keterangan, maupun pernyataan.

Terdapat dua ragam tes bentuk menjodohkan, yakni :

  1. Sistem penjodohan sempurna

Dalam system ini, tiap satu butir dalam premis memiliki satu jawaban sebagi jodohnya.

  1. Sistem penjodohan tidak sempurna

Dalam system ini terdaopat dua atau lebih butir dalam premis yang bersama-sama mempunyai pasangan (jodoh) yang sama.

Contoh Sistem penjodohan sempurna  :

Petunjuk : Pilihlah kata atau pernyataan dari deretan kata atau pernyataan itu pada lajur B yang sesuai atau berhubungan dengan salah satu kata atau pernyataan yang terdapat pada lajur A.

Kunci jawaban :

  1. c
  2. d
  3. a
  4. e
  5. b

 

 

Contoh Sistem penjodohan tidak sempurna  :

Petunjuk : Pilihlah kata atau pernyataan dari deretan kata atau pernyataan itu pada lajur B yang sesuai atau berhubungan dengan salah satu kata atau pernyataan yang terdapat pada lajur A.

 

Kunci Jawaban :

  1. f
  2. f
  3. e
  4. b
  5. c

 

 

 

Keunggulan Tes Mencocokkan

1.   Membutuhkan waktu singkat untuk membaca soal

2.   Dapat diperikasa dengan computer

3.Relatif mudah menyusun soalnya

  1. Penskoran dapat dilakukan dengan cepat dan objektif.
  2. Baik untuk mengukur hasil belajar yang berhubungan dengan pengetahuan tentang istilah, definisi, peristiwa atau penanggalan.
  3. Dapat menguji kemampuan menghubungkan dua hal, baik yang berhubungan langsung maupun tidak langsung.
  4. Agak mudah dikonstruksi sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama dapat dikonstruksi soal yang cukup banyak untuk satu mata pelajaran.
  5. Dapat meliputi seluruh bidang studi yang diuji. Dengan menggunakan tes mencocokkan dapat mewakili setiap pokok bahasan dalam suatu bidang studi.

Kelemahan Tes Mencocokkan

  1. Hanya mengukur tingkat berpikir ingatan
  2. Penulis soal cenderung tidak cermat
  3. Sulit menemukan pasangan yang homogen
  1. Tes mencocokkan terlalu menekankan pada aspek ingatan/hafalan. Sukar untuk mengukur aspek pemahaman dan aspek lainnya yang lebih tinggi.
  2. Sukar untuk menentukan materi atau pokok bahasan yang mangukur hal-hal yang berhubungan.
  3. Banyak kesempatan peserta tes untuk menjawab secara untung-untungan. Kerjasama antara siswa pada waktu mengerjakan tes lebih terbuka
  1. c. tes isian pendek (melengkapi)

Tes bentuk melengkapi (complete test) dapat berupa isian dan ada pula yang merupakan jawaban singkat. Tes ini merupakan satu-satunya tes objektif yang menuntut agar peserta tes memberikan jawaban, bukan memilih jawaban . Tes melengkapi dikatagorikan ke dalam tes objektif. Pada bentuk tes isian ini peserta tes melengkapi atau mengisi titik-titik atau bagian yang dikosongkan pada pokok uji dengan hanya satu kata, ungkapan, maupun angka. Peserta tes dapat pula diminta untuk memberikan jawaban atas suatu soal yang memerlukan perhitungan. Apabila pada suatu pokok uji tedapat dua atau lebih titik-titik yang harus diisi,maka setiap titik-titik itu hanya dapat diisi dengan benar oleh kata atau angka yang sudah tertentu atau pasti. Tes ini bisa disusun berurutan ke bawah dengan diberi nomor dan dapat pula disusun dalam bentuk kalimat tersambung berbentuk karangan. Tes bentuk melengkapi dapat juga berupa gambar table yang harus dilengkapi.

Contoh tes melengkapi:

  • Gerakan bolak-balik secara berkala di sekitar posisi setimbangnya disebut ….

Keunggulan tes melengkapi

a)      Mudah dikonstruksi karena soal ini hanya akan mengukur hasil belajar yang sederhana yaitu yang bersifat ingatan.

b)      Dapat digunakan untuk menilai bahan pelajaran yang banyak atau scope yang luas.

c)      Dapat diskor secara cepat dan objektif.

d)     Kecil kemungkinan siswa memberi jawaban dengan singkat dan tepat.

Kelemahan tes melengkapi

a). Tidak dapat mengukur hasil belajar yang kompleks karena hanya menghasilkan respon yang singkat dan sederhana

b). Memerlukan waktu yang agak lama untuk menskornya meskipun tidak selama tes uraian.

c). Menyulitkan pemeriksa apabila jawaban siswa membingungkan.

d). Kurang ekonomis karena memerlukan kertas(biaya) yang banyak jika dibandingkan dengan tes uraian.

Prinsip konstruksi tes melengkapi

Beberapa petunjuk dalam penulisan butir soal untuk tes melengkapi (tes melengkapi) agar dicapai kualitas soal yang baik adalah :

a)      Gunakanlah pertanyaan atau pernyataan yang menuntut jawaban singkat dan tertentu. Jawaban itu haruslah satu kata, satu ungkapan, sebuah angka, atau sebuah simbol.

b)      Jangan menggunakan kalimat yang dikutip langsung dari buku atau catatan siswa. Penggunaan kalimat yang diambil langsung dari buku cenderung mendorong peserta tes akan menghafal tanpa berusaha memahami apa yang dibacanya.

c)      Pertanyaan atau pernyataan hendaknya dibuat sesederhana mungkin dan mudah dipahami.

d)     Dalam menanyakan masalah hitungan harus ditentukan tingkat ketepatan, apakah angka bulat, satu desimal, atau dua desimal.

e)      Tempat yang harus diisi (titik-titik) sebaiknya ditempatkan ditengah atau pada akir kalimat agar tidak menimbulkan salah pengertian.

f)       Panjangnya titik supaya dibuat sama untuk semua soal.

d. tes pilihan ganda

Jenis soal pilihan ganda (multiple choise) merupakan jenis yang paling popular dalam kelompik butir soal objektif.Butir soal pilihan ganda adalah butir soal yang alternative jawabannnya lebih dari dua (berganda).Pada umumnya jumlah alternative jawaban itu berkisar antara empat atau lima.

Tiap soal pilihan ganda terdiri dari dua bagian,yaitu pertanyaaan yanga biasa juga disebut stem,dan alternative jawaban disebut juga option.Stem mungkin dalam bentuk pernyataan atau dapat juga berupa pertanyaan.Bila berbentuk pernyataan,mungkin merupakan pernyataan yang lengkap atau pernyataan yang tidak lengkap.Mungkin pula berisi pernyataan dan pertanyaan.Option terdiri dari beberapa pilihan,dan salah satu dari alternative pilihan itu adalah jawaban yang benar terhadap pertanyaan.Option yang merupakan jawaban yang benar dinamakan Kunci Jawaban.Alternatif jawaban yang bukan kunci jawaban dinamakan pengecoh atau distractor.

Keunggulan tes pilihan ganda

Keunggulan yang dimiliki oleh tes pilihan ganda antara lain:

  1. Dapat digunakan untuk mengukur sekala jenjang tujuan instruksional,mulai dari yang paling sederhana (C1) sampai yang kompleks (C6).
  2. Dapat menggunakan jumlah butir soal yang lebih banyak,karena hanya diperlukan waktu yang relatif singkat untuk menjawab setiap butir soal.Penarikan sampel pokok bahasan yang akan diujikan dapat lebih luas sehingga tes dapat mencakup hampir seluruh pokok bahasan.
  3. Pemeriksaan (penskoran) jawaban peserta tes dapat dikerjakan dalam waktu yang singkat.
  4. Dapat dikonstruksi untuk mengukaur kemampuan peserta tes memberikan berbagai tingkatan kebenaran.Misalnya dapat dibuat butir soal dengan option yang seluruhnya benar tetapi berbeda tingkat kebenarannya.Peserta tes diminta untuk memilih option yang paling benar.
  5. Dapat menggunakan lebih dari dua option sehingga dapat mengurangi kemungkinan siswwa menebak.Keinginan menebak menjadi lebih besar bila kemungkinan  (probabilitas) menjawab benar cukup besar.
  6. Memungkinkan dilakukannnya anlisis butir soal secara baik.Tes pilihan ganda dapat disusun setelah butir-butir soalnya diuji cobakan.Bila setelah diuji coba dan dianalisis ternyata ada butir soal yang jelek dan lemah,perbaikan (revisi) terhadap soal dapat dilakukan.
  7. Tingkat kesukaran butir soal dapat dikendalikan atau diatur dengan mengubah tingkat homogenitas alternatif jawaban.Semakin homogen alternatif jawaban semakin tinggi tingkat kesukarannnya.
  8. Dapat memberikan informasi tentang siswa (testee) lebih banyak terutama bila soal itu memiliki homogenitas yang tinggi.Setiap pilihan siswa terhadap alternatif jawaban merupakan informasi tenyang penguasaan kognitif siswa dalam bidang yang dites sehingga dapat digunakan untuk mengukur daya serap siswa,dan mendiagnosis kelemahan siswa.

Kelemahan tes pilihan ganda

Kelemahan yang dimiliki oleh bentuk tes pilihan ganda antara lain :

  1. Sukar dikonstruksi.Kesukaran dalam mengkonstruksi (membuat) soal pilihan ganda terutama untuk menemukan alternatif jawaban saja,yaitu kunci jawaban.Alternatif lainnya dicari dan ditemukan dengan tergesa-gesa sehingga tidak akan homogen.
  2. Kurang mencerminkan kemampuan siswa yang sesungguhnya.
  3. Membatasi siswa untuk menyelesaikan jawaban dan pemecahan sendiri.
  4. Adanya kecenderungan hanya untuk menguji dan mengukur aspek ingatan yang merupakan aspek yang paling rendah dalam ranah kognitif.
  5. Penggunaan tes pilihan ganda secara terus menerus akan menyebabkan siswa mengetahui dan mengerti tentang suatu problem,tetapi tidak tahu bagaimana memecahkan problem tersebut dalam situasi yang nyata.
  6. Makin terbiasa seseorang dengan bentuk tes pilihan ganda,makin besar kemungkinan ia mendapatkan skor lebih baik yang sebenarnya tidak berdampak positif terhadap hasil individu.
  7. Tidak dapat digunakan untuk mengukur keterampilan,keindahan,kemampuan megorgaisisr,dan menampilkan ide-ide baru dari siswa yang sangat penting bagi pengembanagn ilmu.

Contoh soal pilihan ganda :

1. Bunyi kereta api sudah terdengar jika telinga didekatkan pada rel sekalipun kereta masih jauh.Hal ini merupakan bukti bahwa…….

a. Bunyi dapat merambat melalui besi

b. Udara tidak dapat merambatkan bunyi kereta api

c. Bunyi kereta sanagt nyaring

d. Rel kereta terbuat dari besi

2.TES URAIAN

Tes esai dengan jawaban bebas memberi siswa kebebasan yang luas untuk merumuskan jawabannya. Meskipun kadang-kadang masih tetap diberi batasan-batasan tertentu, seperti lama mengerjakan soal dan jumlah halaman jawaban batasan untuk bentuk laporan dan isinya dibuat seminimal mungkin.

Keunggulan Tes Uraian Bebas

  1. Memberi kesempatan kepada siswa untuk kreatif mengutarakan idenya.
  2. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuannya mengorganisasikan pikiran dan mengungkapkannya didalam bentuk karangan
  3. Memberikan kesempatan pada siswa untuk secara bebas memperlihatkan keluasan pengetahuan dan kedalaman pemahaman terhadap pengetahuan tersebut.
  4. Mengevaluasi isi secara menyeluruh.
  5. Mendekati masalah dengan metode pemecahan soal.

Kelemahan Tes Uraian Bebas

  1. Sulitnya mengoreksi sehingga diperoleh skor yang rehabilitasnya tinggi.
  2. Memerlukan waktu yang tidak sedikit dalam mengerjakannya.
  3. Jumlah soal terbatas (tidak boleh terlalu banyak).

Contoh :

Jelaskan pendapat Lamark tentang terjadinya jerapah sekarang berleher panjang. Uraikan pula pendapat Darwin tentang hal yang sama, kemudian buat kesimpulan tentang persamaan dan perbedaan kedua teori tersebut !

C.TES PRAKTIK

Tes tindakan (praktik) dimaksutkan untuk mengukur keterampilan siswa dalam melakukan suatu kegiatan. Dalam tes tindakan persoalan disajikan dalam bentuk tugas yang harus dikerjakan oleh testi. Pada intinya ada dua unsur yang yang bisa dijadikan bahan penilaian dalam tes tidakan yaitu: proses dan produk.

Adapun keunggulan dan kelemahan dari tes tindakan ini adalah :

Keunggulan :

1. Cocok untuk mengukur aspek perilaku psikomotor

2. Dapat digunakan untuk mengecek kesesuaian antara pengetahuan, teori, dan keterampilan mempraktekkannya.

3. Tak ada kesempatan untuk menyontek

Kelemahan :

1. Lebih sulitdalam mengadakan pengukuran

2. Memerlukan biaya yang relative lebih besar

3. Memerlukan waktu yang relatif.

LAJUR A

NAMA JENIS MAKANAN

  1. Ketela
  2. Jagung
  3. Pisang
  4. Tomat
  5. Minyak ikan

LAJUR B

NAMA ZAT KIMIA YANG DIKANDUNG

  1. Vitamin A
  2. Vitamin C
  3. Vitamin D
  4. Protein
  5. Lemak
  6. Hidrat Arang

About Me

I’m a boy i study at UNESA (Uiversitas Negeri Surabaya). I took course in Physics education and now i’m in the last year.I like to participate and join in many activity and students organisation.In Senior High School i becomes the leader of Students Intra school Organisation (OSIS) and now in university i’m a part of Excecutive Students Organisation (BEM).You know,my original jargon,or tagline is Physics holic-Gila DotA.Its means i love physics and DotA very Much.DotA is akind of strategic, RTS (real time strategy) that provide a lot of art and skillfull to play.Try it if u have’nt play.Sure u wanna be a DotA holic,lol
That all,thanks

Artikel seminar kolokium

PENGARUH PENERAPAN STRATEGI BELAJAR PETA KONSEP (CONCEPT MAPPING) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK CAHAYA DAN ALAT OPTIK

KELAS VIII SMPN 1 PONOROGO

Heri Eko Asysyakiri

073184005

Pendidikan Fisika 2007

ABSTRAK

Fisika sebagai suatu mata pelajaran di sekolah dinilai cukup memegang peranan penting, baik pola pikirnya dalam membentuk siswa menjadi berkualitas maupun terapannya dalam kehidupan sehari-hari, karena Fisika merupakan suatu sarana berpikir untuk mengkaji sesuatu secara logis dan sistematis. Oleh sebab itu dianggap penting agar Fisika dapat dikuasai sedini mungkin oleh para siswa.Pembelajaran fisika pada siswa khususnya SMP tidak tanpa masalah.Fisika pun kadang menjadi momok dikarenakan sulitnya siswa memahami konsep-konsep yang ada secara menyeluruh.Siswa belajar cenderung hanya dengan hafalan rumus,sehingga apabila suatu saat lupa maka siswa akan kesulitan dalam menyelesaikan permasalahan fisika.Berdasarkan observasi awal diketahui bahawa siswa SMP Negeri 1 Ponorogo cenderung kesulitan dalam memahami konsep-konsep lanjut dalam fisika.Salah satu materi fisika yang mengandung banyak konsep yang saling terkait adalah cahaya dan alat optik kelas VIII. Strategi belajar peta konsep merupakan alternatif cara untuk membelajarkan siswa mengenai konsep-konsep secara menyeluruh. Oleh karena itu penulis tertarik untuk meneliti pengaruh penerapan strategi belajar peta konsep.Penelitian ini termasuk jenis penelitian true experimental dengan mengambil sampel yang homogen sebanyak dua kelas, satu sebagai kelas konbtrol dan yang lain sebagai kelas eksperimen. Dalam kelas eksperimen diberi perlakuan pembelajaran langsung dengan menggunakan strategi belajar peta konsep,sedangkan pembelajaran di kelas kontrol hanya menggunakan pembelajaran langsung tanpa strategi peta konsep.Kemudian hasil data yang diperoleh , dianalisis untuk mengetahui pengaruh strategi belajar peta konsep terhadap hasil belajar siswa.

Kata kunci : Cahaya dan alat optik, pembelajaran langsung, peta konsep, hasil belajar



  1. I. PENDAHULUAN
    1. A. Latar Belakang

Dalam beberapa tahun terakhir ini, bidang pendidikan Indonesia banyak mengalami pembaharuan, mulai dari penyempurnaan kurikulum yang semula menggunakan kurikulum 1999 kemudian beralih menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan yang terakhir adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum tersebut digunakan sebagai pedoman bagi pelaksanaan pendidikan dan mengembangkan berbagai ranah pendidikan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) dalam seluruh jenjang dan jalur pendidikan, khususnya pada jalur pendidikan sekolah. Selain itu banyak pula dikembangkan model pembelajaran yang bertujuan agar kegiatan belajar mengajar tidak hanya berorientasi untuk mencapai nilai yang tinggi tetapi juga meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep.

Weinstein dan Meyer dalam Nur (2000b:5) menyebutkan bahwa pengajaran yang baik meliputi mengajarkan siswa bagaimana mengingat, bagaimana berfikir, dan bagaimana memotivasi diri mereka sendiri. Banyak pendidik setuju bahwa mengajarkan siswa bagaimana belajar merupakan tujuan pendidikan yang sangat penting dan merupakan tujuan utama.

Berhasilnya tujuan pembelajaran ditentukan oleh banyak faktor diantaranya adalah faktor guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, karena guru secara langsung dapat mempengaruhi, membina dan meningkatkan kecerdasan serta keterampilan siswa. Untuk mengatasi permasalahan di atas dan guna mencapai tujuan pendidikan secara maksimal, peran guru sangat penting dan diharapkan guru memiliki cara/model mengajar yang baik dan mampu memilih model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan konsep-konsep mata pelajaran yang akan disampaikan.

Dari pengalaman yang penulis dapatkan ketika menjalani Program Pengenalan Lapangan 2 (PPL 2) penulis merasakan bahwa siswa kesulitan dalam mengingat konsep fisika yang telah disampaiakan. Seketika setelah pelajaran para siswa merasa mengerti dan bisa apabila diadakan evaluasi mengenai materi terkait,akan tetapi ketika waktu berlalu ke pertemuan berikutnya,siswa cenderung kesulitan mengingat konsep fisika yang telah disampaikan. Pada umunya ketika siswa belajar, mereka menghafal rumus rumus dan materi. Menurut Nur dalam Strategi-Strategi Belajar, strategi semacam  ini termasuk strategi mengulang yang merupakan strategi belajar yang paling sederhana.

Salah satu pernyataan dalam teori Ausubel adalah ‘bahwa faktor yang paling penting yang mempengaruhi pembelajaran adalah apa yang telah diketahui siswa (pengetahuan awal). Jadi supaya belajar jadi bermakna, maka konsep baru harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang ada dalam struktur kognitif siswa. Ausubel belum menyediakan suatu alat atau cara yang sesuai yang digunakan guru untuk mengetahui apa yang telah diketahui oleh para siswa (Dahar, 1988: 149). Berkenaan dengan itu Novak dan Gowin (1985) dalam Dahar (1988: 149) mengemukakan bahwa cara untuk mengetahui konsep-konsep yang telah dimiliki siswa, supaya belajar bermakna berlangsung dapat dilakukan dengan pertolongan peta konsep.

Peta konsep sangat tepat digunakan dalam materi atau pokok bahasan yang mengandung banyak informasi atau konsep yang saling terhubung satu sama lain.Salah satu materi fisika yang sering dianggap sulit oleh siswa dan mengandung banyak informasi atau konsep yang saling terhubung satu sama lain adalah “Cahaya dan Alat Optik”. Materi ini merupakan materi fisika kelas VIII.

Oleh karena permasalahan di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti bagaiman pengaruh penerapan strategi belajar peta konsep dalam pembelajaran langsung terhadap hasil belajar siswa.

  1. B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

“Bagaimana pengaruh penerapan strategi belajar peta konsep terhadap hasil belajar siswa pada materi pokok cahaya dan alat optik kelas VIII SMP Negeri 1 Ponorogo?”

  1. C. Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana hasil belajar siswa dan ketuntasannya dengan menggunakan strategi belajar peta konsep pada materi pokok cahaya dan alat optik kelas VIII SMP Negeri 1 Ponorogo

 

  1. D. Manfaat Penelitian

Dari penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat sebagai berikut yaitu meningkatkan ketuntasan hasil belajar siswa, memberikan pengalaman nyata bagi penulis dalam menerapkan strategi belajar peta konsep, memberikan tambahan wawasan kepada para guru tentang strategi belajar peta konsep yang diterapkan dalam proses pembelajaran., serta memotivasi siswa untuk lebih giat belajar.

 

  1. E. Definisi Istilah

Agar tidak terjadi salah penafsiran terhadap istilah-istilah yang dipakai dalam penelitian ini ,maka perlu didefinisikan beberapa istilah yang dipakai dalam penelitian ini

 

  1. Peta Konsep

Peta konsep merupakan perwakilan visual (melalui penglihatan) atau organisator grafik tentang hubungan-hubungan antara konsep-konsep tertentu. Posner dan Rudnitsky dalam Nur (2001b: 36) menyatakan bahwa peta konsep mirip peta jalan, namun peta konsep menaruh perhatian pada hubungan antar ide-ide, bukan hubungan antar tempat. Peta konsep bukan hanya meggambarkan konsep-konsep yang penting melainkan juga menghubungkan antara konsep-konsep itu. Untuk membuat suatu peta konsep, siswa dilatih untuk mengidentifikasi ide-ide kunci yang berhubungan dengan suatu topik dan menyusun ide-ide tersebut dalam suatu pola logis.

 

  1. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah kegiatan belajar dengan menggunakan strategi belajar peta konsep. Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu:

(1)   Faktor dari dalam diri siswa, meliputi kemampuan yang dimilikinya, motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis, dan

(2) Faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan

3. Data Penelitian

Data penelitian adalah informasi hasil belajar siswa dengan menerapkan  strategi belajar peta konsep dan tanpa menerapkan peta konsep. Informasi tersebut kemudian dibandingkan antara hasil belajar siswa dengan menerapkan strategi peta konsep dan tanpa menerapkan strategi peta konsep, sehingga dapat diketahui pengaruh strategi belajar peta konsep terhadap hasil belajar siswa

 

  1. F. Definisi dan Asumsi

a. Definisi Operasional Variabel

  • Variabel bebas

Variabel bebas adalah variabel yang menjadi penyebab berubahnya variabel lain.disebut juga variable  manipulasi. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah strategi belajar peta konsep.

Definisi operasional variabel bebas:

Peta konsep merupakan perwakilan visual (melalui penglihatan) atau organisator grafik tentang hubungan-hubungan antara konsep-konsep tertentu (Nur,2000:3)

  • Variabel terikat

Variabel terikat adalah variabel yang timbul akibat dari variabel bebas.Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa pada akhir pembelajaran.

Definisi operasional variabel terikat: Hasil belajar siswa adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya,dalam hal ini setelah pengalama pembelajaran dengan strategi peta konsep

 

  • Variabel kontrol

Variabel kontrol adalah faktor-faktor yang dikontrol untuk meniadakan pengaruh variabel bebas dan variabel terikat. Variabel kontrol dalam penelitian ini adalah pengajar, materi ajar cahaya dan alat optik, dan model pembelajaran langsung.

Definisi operasional variabel kontrol:

ü  Pengajar adalah seorang guru yang memberikan pelajaran dalam kelas.

ü  Cahaya dan alat optik  adalah materi mata pelajaran fisika yang mempelajari pengertian cahaya,sifat-sifat sifat cahaya dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

ü  Model pembelajaran langsung adalah Model pembelajaran yang digunakan untuk membelajarkan siswa tentang pengetahuan yang terstruktur dengan baik dan dapat diajarkan selangkah demi langkah yang dapat membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan tahap demi tahap. (Nur M, 2005: 36)

 

b.  Asumsi

Agar penelitian ini dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya, maka dalam penelitian ini diasumsikan beberapa hal, yaitu:

 

  • Guru dan siswa merespon instrumen penelitian dengan dilandasi sifat jujur, terbuka, dan objektif.
  • Nilai hasil tes dan pembuatan peta konsep menggambarkan hasil kemampuan siswa yang sebenarnya.

 

  1. II. KAJIAN TEORI

1. Peta Konsep

Posner dan Rudnitsky dalam Nur (2000b: 36) menyatakan bahwa peta konsep mirip peta jalan, namun peta konsep menaruh perhatian pada hubungan antar ide-ide, bukan hubungan antar tempat. Peta konsep bukan hanya meggambarkan konsep-konsep yang penting melainkan juga menghubungkan antara konsep-konsep itu. Untuk membuat suatu peta konsep, siswa dilatih untuk mengidentifikasi ide-ide kunci yang berhubungan dengan suatu topik dan menyusun ide-ide tersebut dalam suatu pola logis.

Menurut Nur (2000b : 25) terdapat empat jenis strategi belajar yang utama yaitu

a.  Strategi-strategi mengulang

b.  Strategi-strategi elaborasi

c.   Strategi-strategi organisasi

d.  Strategi-strategi metakognitif

 

Peta konsep merupakan salah satu bagian dari strategi organisasi. Strategi organisasi bertujuan membantu pebelajar meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan organisasi bertujuan membantu pebelajar meningkatkan kebermaknaan bahan-bahan baru, terutama dilakukan dengan mengenakan struktur-struktur pengorganisasian baru pada bahan-bahan tersebut. Strategi-strategi organisasi dapat terdiri dari pengelompokan ulang ide-ide atau istilah-istilah atau membagi ide-ide atau istilah-istilah itu menjadi subset yang lebih kecil. Strategi- strategi ini juga terdiri dari pengidentifikasian ide-ide atau fakta-fakta kunci dari sekumpulan informasi yang lebih besar.

Pemetaan konsep merupakan suatu alternatif selain outlining, dan dalam beberapa hal lebih efektif daripada outlining dalam mempelajari hal-hal yang lebih kompleks. Peta konsep digunakan untuk menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep-konsep dalam bentuk proposisi-proposisi. Proposisi merupakan dua atau lebih konsep yang dihubungkan oleh kata-kata dalam suatu unit semantik (Novak dalam Dahar 1988: 150).

Dahar (1988: 153) mengemukakan ciri-ciri peta konsep sebagai berikut:

1)   Peta konsep (pemetaan konsep) adalah suatu cara untuk memperlihatkan konsep-konsep dan proposisi-proposisi suatu bidang studi, apakah itu bidang studi fisika, kimia, biologi, matematika dan lain-lain. Dengan membuat sendiri peta konsep siswa “melihat” bidang studi itu lebih jelas, dan mempelajari bidang studi itu lebih bermakna.

2)  Suatu peta konsep merupakan suatu gambar dua dimensi dari suatu bidang studi atau suatu bagian dari bidang studi. Ciri inilah yang memperlihatkan hubungan-hubungan proposisional antara konsep-konsep. Hal inilah yang membedakan belajar bermakna dari belajar dengan cara mencatat pelajaran tanpa memperlihatkan hubungan antara konsep-konsep.

3)   Ciri yang ketiga adalah mengenai cara menyatakan hubungan antara konsep-konsep. Tidak semua konsep memiliki bobot yang sama. Ini berarti bahwa ada beberapa konsep yang lebih inklusif dari pada konsep-konsep lain.

4)   Ciri keempat adalah hirarki. Bila dua atau lebih konsep digambarkan di bawah suatu konsep yang lebih inklusif, terbentuklah suatu hirarki pada peta konsep tersebut.

Peta konsep dapat menunjukkan secara visual berbagai jalan yang dapat ditempuh dalam menghubungkan pengertian konsep di dalam permasalahanya. Peta konsep yang dibuat murid dapat membantu guru untuk mengetahui miskonsepsi yang dimiliki siswa dan untuk memperkuat pemahaman konseptual guru sendiri dan disiplin ilmunya. Selain itu peta konsep merupakan suatu cara yang baik bagi siswa untuk memahami dan mengingat sejumlah informasi baru (Arends, 1997: 251).

Menurut Dahar (1988:154) peta konsep memegang peranan penting dalam belajar bermakna. Oleh karena itu siswa hendaknya pandai menyusun peta konsep untuk meyakinkan bahwa siswa telah belajar bermakna. Langkah-langkah berikut ini dapat diikuti untuk menciptakan suatu peta konsep.

Langkah 1: mengidentifikasi ide pokok atau prinsip yang melingkupi sejumlah konsep.

Langkah 2: mengidentifikasi ide-ide atau konsep-konsep sekunder yang menunjang ide  utama

Langkah 3: menempatkan ide utama di tengah atau di puncak peta tersebut

Langkah 4: mengelompokkan ide-ide sekunder di sekeliling ide utama yang secara visual menunjukan hubungan ide-ide tersebut dengan ide utama.

Berdasarkan pendapat di atas dapat dikemukakan langkah-langkah menyusun peta konsep sebagai berikut:

1)  Memilih suatu bahan bacaan

2)  Menentukan konsep-konsep yang relevan

3)  Mengelompokkan (mengurutkan) konsep-konsep dari yang paling inklusif ke yang   paling tidak inklusif

4)  Menyusun konsep-konsep tersebut dalam suatu bagan, konsep-konsep yang paling inklusif diletakkan di bagian atas atau di pusat bagan tersebut.
Dalam menghubungkan konsep-konsep tersebut dihubungkan dengan kata hubung. Misalnya “merupakan”, “dengan”, “diperoleh”, dan lain-lain.

 

Bentuk tes pada umumnya seperti pilihan ganda yang selama ini dipandang sebagai alat ukur (uji) keberhasilan siswa dalam menempuh jenjang pendidikan tertentu, bukanlah merupakan satu-satunya alat ukur yang dapat digunakan untuk menentukan keberhasilan siswa. Tingkat keberhasilan siswa dalam menyerap pengetahuan sangat beragam, maka diperlukan alat ukur yang beragam pula. Peta konsep adalah salah satu bentuk penilaian kinerja yang dapat mengukur siswa dari sisi yang berbeda. Penilaian kinerja adalah bentuk penilaian yang digunakan untuk menilai kemampuan dan keterampilan siswa berdasarkan pada pengamatan tingkah lakunya selama melakukan penilaian terhadap hasil kerja siswa selama kegiatan.

Menurut Nur (2000:3) peta konsep ada empat macam ,yaitu pohon jaringan (network tree), rantai kejadian (events chain), peta konsep siklus (cycle concept map), dan peta konsep laba-laba (spider concept map)

  1. a. Pohon Jaringan

Dalam peta konsep pohon jaringan ide-ide pokok dibuat dalam persegi empat, sedangkan beberapa kata lain dihubungkan oleh garis penghubung.Kata-kata dalam persegi empat adalah ide-ide pokok. Sedangkan kata-kata pada garis penghubung memberikan hubungan antara konsep-konsep.

Gambar 1 Pohon jaringan yang memerikan alat optik

(Karim, 2008:308)

Pada saat mengkonstruksi suatu pohon jaringan, tulislah topik itu dan daftar konsep-konsep utama yang berkaitan dengan topik itu. Daftar dan mulailah dengan menempatkan ide-ide atau konsep-konsep dalam suatu susunan dari umum ke khusus. Cabangkan konsep-konsep yang berkaitan itu dari konsep utama dan berikan
hubungannya pada garis-garis itu

Pohon jarinagn cocok digunakan untuk memvisualisasi hal-hal berikut ini.

1.  Menunjukkan informasi sebab-akibat

  1. Suatu hierarkhi
  2. Prosedur yang bercabang
  3. Istilah-istilah yang berkaitan yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan-hubungan

 

  1. b. Rantai Kejadian

Nur (2000:5) mengatakan bahwa peta konsep rantai kejadian dapat digunakan untuk memerikan suatu urutan kejadian, langkah-langkah dalam suatu prosedur, atau tahap-tahap dalam suatu proses. Misalnya dalam melakukan eksperimen.

 

 

Gambar 2. Tahap-tahap

dalam suatu eksperimen

(Nur 200:5)

 

 

Rantai kejadian cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal:

1. Memerikan tahap-tahap suatu proses

2. Langkah-langkah dalam suatu prosedur

3. Suatu urutan kejadian

 

  1. c. Peta Siklus

Suatu peta konsep siklus adalah suatu peta rantai kejadian yang khusus. Dalam peta konsep siklus, rangkaian kejadian tidak menghasilkan suatu hasil akhir. Kejadian akhir pada rantai itu menghubungkan kembali ke kejadian awal. Seterusnya kejadian akhir itu menhubungkan kembali ke kejadian awal siklus itu berulang dengan sendirinya dan tidak ada akhirnya. Peta konsep siklus cocok diterapkan untuk menunjukan hubungan bagaimana suatu rangkaian kejadian berinteraksi untuk menghasilkan suatu kelompok hasil yang berulang-ulang.

 

Gambar 3. Skema perubahan wujud zat (Winarsih  2008:69)

 

 

  1. d. Peta Konsep Laba-laba

Peta konsep laba-laba dapat digunakan untuk curah pendapat. Dalam melakukan curah pendapat ide-ide berasal dari suatu ide sentral, sehingga dapat memperoleh sejumlah besar ide yang bercampur aduk. Banyak dari ide-ide tersebut berkaitan dengan ide sentral namun belum tentu jelas hubungannya satu sama lain. Kemudian Kita dapat memulainya dengan memisah-misahkan dan mengelompokkan istilah-istilah menurut kaitan tertentu sehingga istilah itu menjadi lebih berguna dengan menuliskannya di luar konsep utama.

 

Gambar 4. Peta laba-laba tentang sinar matahari

 

 

Peta konsep laba-laba cocok digunakan untuk memvisualisasikan hal-hal:

1. Tidak menurut hirarki, kecuali berada dalam suatu kategori

2.  Kategori yang tidak paralel

3.  Hasil curah pendapat

 

2. Model pembelajaran langsung

Model pembelajaran langsung merupakan suatu model mengajar yang dapat membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan tahap demi tahap.

Menurut Nur, (2000:3) dijelaskan bahwa Model Pengajaran Langsung memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  • Adanya tujuan pengajaran dan pengaruh model pada siswa termasuk prosedur penilaian hasil belajar.
  • Sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pengajaran.
  • Sistem pengelolaan lingkungan belajar model yang diperlukan agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung secara berhasil.

Pada umumnya, para ahli membedakan dua macam pengetahuan dalam model pembelajaran langsung, yaitu pengetahuan deklaratif  dan prosedural. Pengetahuan deklaratif merupakan pengetahuan tentang sesuatu, sedangkan pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu

Model pembelajaran langsung atau Direct Instruction merupakan suatu pendekatan mengajar yang dapat membantu siswa dalam mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah. Pendekatan mengajar ini sering disebut Model Pengajaran Langsung (Kardi dan Nur,2000a :2). Arends (2001:264) juga mengatakan hal yang sama yaitu :”A teaching model that is aimed at helping student learn basic skills and knowledge that can be taught in a step-by-step fashion. For our purposes here, the model is labeled the direct instruction model”. Apabila guru menggunakan model pengajaran langsung ini, guru mempunyai tanggung jawab untuk mengudentifikasi tujuan pembelajaran dan tanggung jawab yang besar terhadap penstrukturan isi/materi atau keterampilan, menjelaskan kepada siswa, pemodelan/mendemonstrasikan yang dikombinasikan dengan latihan, memberikan kesempatan pada siswa untuk berlatih menerapkan konsep atau keterampilan yang telah dipelajari serta memberikan umpan balik.            Model pembelajaran langsung terdiri dari lima fase,yaitu

Tabel 1

fase pembelajaran langsung

 

Dengan demikian model pembelajaran langsung merupakan model yang dirancang secara khusus untuk mengembangkan kegiatan belajar siswa mengenai pengetahuan deklaratif yaitu pengetahuan tentang sesuatu dan pengetahuan prosedural yaitu pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu.

 

3. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu:

(1) Faktor dari dalam diri siswa, meliputi kemampuan yang dimilikinya, motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis, dan

(2)  Faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan,terutama kualitas pengajaran.

Gagne mengungkapkan ada lima kategori hasil belajar yakni informasi verbal, kecakapan intelektual, strategi kognitif, sikap, dan keterampilan.Sementara Bloom mengungkapkan tiga kawasan tujuan pengajaran yang merupakan kemampuan seseorang yang harus dicapai dan merupakan hasil belajar yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Beberapa fungsi hasil belajar antara lain :

(1) Hasil belajar sebagai indikator kuantitas dan kualitas pengetahuan   yang telah dikuasai oleh siswa

(2) Hasil belajar sebagai lambang pemuas hasrat ingin tahu

(3) Hasil belajar sebagai bahan informasi   dalam inovasi pendidikan, asumsinya bahwa hasil belajar dapat dijadikan pendorong bagi siswa dalam meningkatkan IPTEK serta berperan sebagai umpan balik dalam meningkatkan mutu pendidikan.

4. Materi Cahaya dan alat Optik

  1. a. Cahaya

Cahaya merupakan energi berbentuk gelombang elektromagnetik. Cahaya dapat merambat dalam ruang hampa dengan cepat rambat cahaya sebesar 3×108 m/s. Cahaya diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Benda-benda yang dapat memancarkan cahaya disebut sumber cahaya. Adapun sumber cahaya utama di bumi adalah matahari.

  1. b. Sifat-sifat cahaya
  2. Cahaya merambat lurus

Apabila kita berada di dalam ruangan yang gelap sehingga cahaya tidak dapat masuk,kemudian ruangan tersebut kita beri lubah kecil, maka cahaya akan dapat masuk dan akan membentuk sinar yang lurus, dapat kita buktikan juga melalui sebuah percobaan sederhana.Cahaya yang dihasilkan oleh sebuah kotak sumber cahaya kemudian melewati 4 buah layar yang diberi lubang.Posisi lubang pada layar adalah berada pada satu garis lurus,maka cahaya akan dapat keluar dari lubang pada layar terakhir.

 

 

Gambar 5 : Cahaya merambat dengan lintasan lurus pada sebuah lubang di suatu ruangan (Karim 2008:275)

 

  1. Mengalami Pemantulan

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak dapat melihat suatu benda jika tidak ada cahaya. Hal ini dikarenakan tidak ada cahaya yang dipantulkan ke mata oleh suatu benda.Ketika cahaya menimpa permukaan benda, sebagian cahaya dipantulkan. Sisanya diserap oleh benda (dan diubah menjadi energi panas).Hal inilah yang menyebabkan kita dapat melihat bendaa-benda yang ada di sekitar kita.

 

  1. Mengalami Pembiasan

Ketika cahaya melintas dari suatu medium ke medium lainnya, sebagian cahaya datang dipantulkan pada perbatasan. Sisanya lewat ke medium yang baru. Jika seberkas cahaya datang dan membentuk sudut terhadap permukaan (bukan hanya tegak lurus), berkas tersebut dibelokkanpada waktu memasuki medium yang baru. Pembelokan  ini dinamakan pembiasan.Contoh peristiwa pembiasan adalah ketika kita memasukkan sebuah benda di dalam gelas yang berisi air maka benda tersebut akan terlihat patah.

 

 

Gambar 6.   Pensil tampak patah ketika tercelup air

 

 

 

 

  1. 4. Mengalami Penguraian/Dispersi

 

Cahaya tampak  merupakan cahaya polikromatis,artinya apabila diuraikan akan menghasilkan spectrum cahaya pelangi yang terdiri dari beberapa warna monokromatis.Warna-warna tersebut masing-masing mempunyai panjang gelombang yang berbeda-beda.Pada saat seberkas cahaya putih masuk mengenai sebuah permukaan prisma kaca pada bebrapa sudut, sudut bias untuk panjang gelombang yang lebih pendek yang mendekati ujung ungu dari spectrum cahaya tampak sedikit lebih besar dari sudut bias untuk panjang gelombang yang menuju ujung merah pada spectrum cahaya tampak tersebut.Cahaya dengan panjang gelombang lebih pendek dibelokkan lebih besar dari cahaya dengan panjang gellombang lebih panjang.Berkas cahaya putih disebar ke dalam warna-warna komponen atau panjang gelombang-panjang gelombang. Peristiwa penguraian cahaya putih menjadi komponen-komponen warna ini disebut penguraian (dispersi).Peristiwa alam yang merupakan contoh dari dispersi adalah pelangi.

Gambar 7. Dispersi pada prisma

  1. c. Pemantulan Cahaya

Ketika cahaya menimpa permukaan benda, sebagian cahaya dipantulkan. Sisanya diserap oleh benda (dan diubah menjadi energi panas) atau jika benda tersebut transparan seperti kaca atau air, sebagian diteruskan. Untuk benda-benda yang sangat mengkilat seperti cermin berlapis perak, lebih dari 95 persen cahaya bisa dipantulkan.

Ketika gelombang dari tipe apapun mengenai sebuah penghalang datar seperti misalnya sebuah cermin, gelombang-gelombang baru dibangkitkan dan bergerak menjauhi penghalang tersebut.Peristiwa inilah yang merupakan peristiwa pemantulan.Pemantulan terjadi antar bidang batas antara dua medium berbeda.

 

 

 

 

 

 

Gambar 8 : Hukum pemantulan (Pratiwie dkk 2008:359)

 

Hubungan antara sinar datang, sinar pantul, sudut datang, sudut pantul diselidiki oleh Willebrord Snellius, dan disebut sebagai hukum pemantulan, yakni :

  1. Sinar datang, sinar pantul dan garis normal terletak pada satu bidang datar.
  2. Sudut datang sama dengan sudut pantul.

Menurut arah sinar pantulnya pemantulan cahaya dibedakan menjadi dua jenis,yaitu

1) Pemantulan teratur

Pemantulan teratur terjadi jika seberkas cahaya sejajar mengenai suatu permukaan benda yang rata, misalnya permukaan cermin datar, maka cahaya tersebut akan dipantulkan dengan arah tertentu secara teratur seperti gambar 9. Sehingga pemantulan cahaya hanya ke satu arah saja disebut pemantulan teratur.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 9 : Jalan sinar pada pemantulan teratur

(Pratiwie,dkk 2008:359)

Cermin merupakan alat yang dapat memantulkan hampir seluruh cahaya yang mengenainya. ada tiga macam, yaitu cermin datar, cermin cekung, dan cermin cembung.

Jika dua buah cermin datar disusun sehingga membentuk sudut α maka akan diperoleh beberapa buah bayangan. Banyak bayangan yang terbentuk antara dua cermin dapat dinyatakan dalam persamaan berikut.

Keterangan:

n : banyaknya bayangan yang terbentuk

α : sudut yang diapit oleh kedua cermin

m = 1 jika hasilnya bilangan genap

m = 0 jika hasilnya bilangan ganjil

 

 

 

 

 

2) Pemantulan Baur

Pemantulan baur terjadi apabila seberkas cahaya sejajar mengenai permukaan benda tidak rata, maka cahaya tersebut dipantulkan ke segala arah secara tidak beraturan seperti gambar 10.Dengan demikian  pemantulan baur adalah pemantulan cahaya ke segala arah secara tidak beraturan.

Gambar 10 : Jalan sinar pada pemantulan baur

(Pratiwie,dkk 2008:359)

 

 

 

 

 

 

III. METODE PENELITIAN

  1. 1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan Penelitian Eksperimen yang dilakukan percobaan untuk menguji hipotesis Dalam penelitian ini, digunakan subyek yang berbeda, yaitu kelas kontrol (proses belajar mengajar hanya mnggunakan model pembelajaran langsung) dan kelas eksperimen (proses belajar mengajar menerapkan strategi belajar peta konsep dalam model pembelajaran langsung). Untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran dilakukan pre-test dan post-test.

 

  1. 2. Waktu dan Lokasi Penelitian

Tempat penelitian ini adalah SMP Negeri 1 Ponorogo  di Jalan Soekarno-Hatta nomor 82 Ponorogo pada semester genap dan pengambilan data dilakukan pada bulan April 2010.

 

  1. 3. Subjek Penelitian

a. Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII di SMP Negeri 1Ponorogo  yang terdiri dari 9 kelas. Dari populasi tersebut diambil 60 siswa yang terbagi dalam 2 kelas yang sama rata

  1. b. Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 2 kelas, satu kelas sebagai kelas kontrol dan satu kelas sebagai kelas eksperimen.

Pada penelitian ini, pembagian sampel menjadi 2 kelompok, yaitu:

kelompok 1: sebagai kelas eksperimen yaitu yang deberi perlakuan pelaksanaan pembelajaran langsung dengan menggunakan strategi belajar peta konsep.

kelompok 2: sebagi kelas kontrol yaitu yang diajar dengan model pembelajaran langsung tanpa menggunakan strategi belajar peta konsep.

 

 

  1. 4. Rancangan Penelitian

Dalam penelitian ini, digunakan subyek yang berbeda, yaitu kelas kontrol (proses belajar mengajar hanya mnggunakan model pembelajaran langsung) dan kelas eksperimen (proses belajar mengajar menerapkan strategi belajar peta konsep dalam model pembelajaran langsung). Untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran dilakukan pre-test dan post-test.

 

 

Tabel 3: Skema rancangan penelitian

Keterangan:

YA1  :  hasil pre-test kelompok eksperimen

YB1 :  hasil pre-test kelompok kontrol

X1     : jenis perlakuan dengan menerapkan  strategi belajar peta konsep

X2       : jenis perlakuan tanpa menerapkan strategi belajar peta konsep

YA2  :  hasil post-test kelompok eksperimen

YB2  :  hasil post-test kelompok kontrol

 

  1. 5. Prosedur Penelitian

Prosedur pengambilan data dibagi menjadi beberapa tahap

  1. Tahap persiapan, sebelum dilakukan penelitian, peneliti melakukan:

1)    Observasi kelas secara langsung, bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang kelas yang akan diteliti melalui wawancara dengan guru bidang study fisika.

2)    Menyusun instrument, berupa silabus, RPP,LKS, lembar pre-test dan post-test, lembar pengamatan, rubrik dan angket.

  1. Tahap memberikan tes awal (pre-test) sebelum pembelajaran dimulai, bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa
  2. Tahap kegiatan dan pengamatan, yaitu kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan strategi belajar peta konsep  pada materi pokok cahayta dan alat optik
  3. Tahap memberikan tes akhir (post-test), bertujuan untuk mengevaluasi keberhasilan siswa dalam memahami materi yang disampaikan dengan strategi belajar peta konsep pada materi cahaya dan alat optik
  4. Memberikan angket kepada siswa untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran dengan menerapkan strategi belajar peta konsep.
  5. Melakukan analisis data dan uji statistik terhadap data yang telah diperoleh
  6. Menyusun laporan penelitian

 

  1. 6. Instrumen Penelitian

Instrument penelitian adalah seperangkat alat yang digunakan dalam pengambilan data:

a.  Instrument pembelajaran

Instrumen pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah RPP , LKS (Lembar Kegiatan Siswa), silabus, rubrik, lembar pre-test dan post-test. Lembar pengamatan pengelolaan penerapan strategi belajar peta konsep dalam model pembelajaran langsung.

  1. Tes hasil belajar

Instrument yang disusun adalah item test yang digunakan untuk memperoleh data tentang hasil belajar siswa dari masing-masing kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Bentuk test yang digunakan adalah soal objektif yang  telah diujicobakan terlebih dahulu.

  1. Angket

Angket diberikan kepada siswa untuk mengetahui respon siswa terhadap pembelajaran yang telah dilakukan dengan menerapkan syrategi belajar peta konsep dalam model pembelajaran langsung.

  1. 7. Prosedur Pengambilan Data

Dalam penelitian ini pengumpulkan data dilakukan dengan beberapa metode, yaitu :

a. Metode observasi

Metode observasi adalah teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran dengan tujuan untuk mengetahui keterlaksanaan proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Observasi dilakukan oleh orang ketiga selain peneliti dan dilakukan pada saat peneliti melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan strategi belajar peta konsep  pada materi pokok cahaya dan alat optic kelas VIII RSBI SMP N 1 Ponorogo.

  1. Metode tes

Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunto, 2006: 150).

Tes yang dalam penelitian ini adalah pretest yang dilakuakan pada awal penelitian dan posttest yang diberikan pada akhir proses pembelajaran.

  1. Metode angket

Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal – hal yang ia ketahui (Suharsimi Arikunto, 2006: 151).

Metode angket digunakan untuk mengetahui respon siswa terhadap penerapan strategi belajar peta konsep dalam proses pembelajaran.

 

  1. 8. Analisis

a. Analisis instrumen penelitian

1.Analisis angket, lembar observasi, rancangan pelaksanaan pembelajaran

 

Validasi ini untuk instrumen ini dianalisis secara deskriptif (analisis dengan hanya memperhatian saran atau pendapat dari yang bersangkutan) untuk mengetahui validitas isi dan konstruksi soal tes hasil belajar.

 

2. Analisis validitas butir soal

Validitas adalah ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan dan kesahihan dalam instrumen. Analisis untuk mengetahui validitas butir soal ini peneliti menggunakan korelasi product moment menggunakan angka kasar dengan rumus sebagai berikut :

 

 

…. (1)

Dimana :

X= Skor item

Y = Skor total

N = Jumlah siswa

∑X = Jumlah skor item (butir soal)

∑Y=Jumlah skor total

 

Dari perhitungan validitas butir soal akan diperoleh kriteria koefisien korelasi validitas sebagai berikut :

0,80 – 1,00 : Sangat tinggi

0,60 – 0,80 : Tinggi

0,40 – 0,60 : Cukup

0,20 – 0,40 : Rendah

0,00 – 0,20 : Sangat rendah

Hasil perhitungan rxy dibandingkan dengan nilai r pada tabel. Butir soal dikatakan valid jika rxy > rtabel.

(Suharsimi Arikunto, 2009:75)

 

  1. Analisis reabilitas butir  soal

Dalam mencari reabilitas, peneliti menggunakan  rumus Spearman-Brown dengan cara belahan awal-akhir. (Suharsimi Arikunto, 2006: 181).

Untuk menghitung reliabilitas separo tes (r1/21/2) digunakan rumus sebagai berikut :

 

….. (2)

Dimana :

X = Skor item belahan awal

Y = Skor item belahan akhir

N = Jumlah siswa

∑X= Jumlah skor item

∑Y= Jumlah skor total

(Suharsimi Arikunto, 2006:183).

 

Kemudian untuk mengetahui reliabilitas seluruh tes, digunakan rumus :

 

….(3)

Dimana :

r1/2 1/2 = Korelasi antara dua belahan instrumen

r11 = Koefisien reliabilitas instrumen

Apabila r hitung > r tabel maka tes dikatakan  reliabel.

(Suharsimi Arikunto, 2006:180).

 

  1. Daya Beda Tes

Indeks deskriminasi (daya pembeda) ini berkisar antara 0,00 sampai 1,00. Rumus untuk menentukan deskriminasi adalah:

D = = PA – PB ……………..(4)

(Suharsimi Arikunto, 2009:213)

 

Keterangan:

J       = jumlah peserta tes

JA = banyaknya peserta kelompok atas

JB = banyaknya peserta kelompok bawah

BA = banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu   dengan benar

BB = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan benar

PA = BA/JA = proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar

PB = BB/JB = propersi peserta kelompok bawah yang menjawab benar

Tabel 2

Penafsiran Daya Pembeda Tes

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Suharsimi Arikunto , 2009:218)

 

  1. Taraf Kesukaran

Besarnya indeks kesukaran antara 0,00 sampai 1,00. Indeks kesukaran ini menunjukkan taraf kesukaran soal. Rumus untuk mencari indeks kesukaran:

 

(Suharsimi Arikunto, 2009:210)

Keterangan:

P = indeks kesukaran

B = banyaknya siswa yang menjawab   soal dengan benar

Js = jumlah seluruh siswa peserta tes

 

b. Analisis Data Penelitian

1. Analisis Angket

Untuk mengetahui berbagai responsiswa tentang penerapan strategi belajar peta konsep dapat dilihat dari rata-rata prosentase jawaban dukungan  dan hambatan yang dihadapiguru dan siswa. Data yang diperoleh dapat dihitung prosentasenya dengan menggunakan rumusan sebagai berikut :

(Sudjana, 2004:129)

Keterangan :

P               : Prosentase jawaban responden

F               : Jumlah jawaban responden

N              : Jumlah responden

  1. 2. Analisis Hasil Belajar

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji-t, sebelum dikenai uji-t terlebih dahulu dikenakan uji normalitas untuk hasil pre-test, karena sebelum digunakan uji-t sampel harus dalam keadaan terdistribusi normal. Setelah syarat tersebut terpenuhi maka uji-t dapat dilakukan untuk hasil post-test sampel. Dengan demikian langkah-langkah pengujian hipotesis adalah sebagai berikut:

 

1)       uji normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui data terdistribusi normal atau tidak. Langkah-langkahnya adalah sebagi berikut:

a)    menyusun hipotesis

Ho :sampel random berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

Hi : sampel random berasal dari populasi yang tak berdistribusi normal.

b)    menentukan taraf signifikan

c)    menyusun data dalam distribusi frekuensi kemudian menentukan mean dan standar deviasi

d)    menyusun harga untuk batas atas, luas tiap interval frekuensi harapan dan frekuensi observasi

e)    menghitung statistik chi kuadrat

 

f)     menentukan kriteria

Ho ditolak jika x2hitung > x2tabel

g)    menarik kesimpulan

 

2)       Uji homogenitas

Digunakan untuk mengetahui apabila sampel yang diambil bersifat homogen atau belum maka dalam hal ini dilakun pengujian kesamaan dua varians. Langkah-langkahnya adalah :

a)    menyusun hipotesis

b)    menentukan taraf signifikan a= 0,05

c)    menghitung besarnya F dengan

 

(Sudjana, 2002:303)

 

d)    menentukan kriteria pengujian

mencari nilai F < F1/2 a (V1,V2) dalam keadaan lain Ho ditolak

e)    mencari nilai F1/2 a (V1,V2)

f)     menarik kesimpulan

 

3)       uji hipotesis

Setelah terbukti sampel berdistribusi normal, dan homogen baru dilakukan uji hipotesis dengan uji t. langkah-langkahnya sebagai berikut :

a)    menentukan hipotesis

b)    menentukan taraf signifikan a= 0,05

c)    menentukan kriteria

Ho diterima bila t(1-0,5a) < t > t(1-0,5a)

Dengan dk= n1 + n2-2 dalam keadaan lain Ho di tolak

d)    menghitung statistik dengan rumus

(Sudjana, 2002:239)

 

x1 :  rata-rata skor tes kelompok eksperimen

x2 :  rata-rata skor tes kelompok kontrol

S: simpangan baku gabungan antara   kelompok eksperimen dan kelompok kontrol

n1 :banyaknya data kelompok eksperimen

n1 : banyaknya data kelompok control

 

e)    menarik kesimpulan

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Arikuntho,Suharsimi.2006.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.Jakarta:PT Rineka Cipta

Giancoli, Douglas C. 2001. FISIKA Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Karim, Saeful.2008.Belajar IPA : membuka cakrawala alam sekitar 2 untuk kelas VII SMP/MTs. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional

Munthe,Bermawi.2009.Desain Pembelajaran.Yogyakarta : PT Pustaka Insan Madani

Nur,Muhammad.2000.Buku Panduan Keterampilan Proses dan Hakikat Sains.Surabaya : UNESA University Pers

Nur,Muhammad.2000b.Strategi-Strategi Belajar.Surabaya : UNESA University Pers

Prabowo. 1998. METODOLOGI PENELITIAN. Surabaya: UPRESS UNESA.

Sudjana. 2002. Metode Statistik. Bandung: PT Tarsito.

Tipler, Paul. 2001. FISIKA Untuk Sains dan Teknik Edisi Ketiga Jilid 2. Jakarta: Erlangga

Winarsih, Anni.2008.IPA TERPADU : SMP/MTs VII. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional

http://fisika21.wordpress.com/2010/07/11/peta-konsep-mempermudah-konsep-sulit-dalam-pembelajaran/ (diakses pada tanggal 7 November 2010)

 

 

DotA hero counter

DotA is a game with many layers of strategy, and like any well balanced game it features a paper-rock-scissors system. This guide has evolved significantly since it’s first incarnation, but has remained focused on the first decision made in every game of DotA: hero selection. This choice is often far more important than people give it credit, and can frequently make or break your team’s effectiveness over the course of the game. Taking the liberty to modify Sun Tzu’s proverb from the Art of War: “If you know both your heroes and your enemy heroes, you will come out of one hundred battles with one hundred victories.”

 

The first of the two major components of this time honored concept, is knowing your teams heroes. A team should be balanced, and if you and your allies choose a team of heroes that heavily leans to one end of the spectrum you are likely hindering your effectiveness. As an example, if I see an ally select Stealth Assassin and another select Bounty Hunter, it would be unwise for me to choose Nerubian Weaver or Clinkz. This is due to the fact that the opposing team will likely get a Gem or Sentry Wards to counter my allies, and I will be at a significant disadvantage from the start. The same principle applies to a majority of spell dependent heroes. If your team selects all spell casters against a competent team, you will see HoD and BKB which again, lowers your team effectiveness. In summary, know your ally heroes strengths and weaknesses and try to compensate for them in your own.

 

The second part of Sun Tzu’s concept is to know your enemy. Generally speaking, DotA is balanced by having a counter-hero or item for every hero or skill/spell. Please understand that the largest factor in deciding the outcome of a DotA game is not the fact that one hero has an advantage against another, its player skill and team work. Even with a hero that is best equipped as the “counter-hero” for your enemy, you may still lose to your opponent if they have a higher skill level than yourself. By choosing your hero wisely, you are successfully approaching the first layer of strategy, but that alone will not warrant you a victory.

 

That said, there are cases where (all skill levels considered equal) one hero or item will have a significant advantage against a specific enemy hero. A classic example of this is Medusa against Omniknight. Her Purge ability instantly removes all of Purist’s buffs, rendering his Repel and Guardian Angel useless when she is around. Can a team with a skilled Omniknight player excel against a mediocre Medusa player? Of course, but there was always a slight advantage in base effectiveness for Medusa when teamed up against an Omniknight player.

Hero Selection

The initial minute of every game is critical for this kind of strategy. Ideally, you will want to wait to select your hero until around the 60 second mark, or until the other team has selected most of their heroes. This will leave you with at least 30 seconds to buy your starting items and get to a lane, which is more than enough for the average player. For -random games, consider a repick if you find yourself facing 2 or more of your “counter” heroes, or your team is too skewed in one direction or another. This guide is to help you know which hero to select, and what item build to begin working toward by that 60 second mark.

 

I understand that some people hate the idea of “counter-picking” but the fact of the matter is, it is a part of DotA and if you choose to ignore it you will often find yourself at a disadvantage. To limit the impact of this kind of strategy being used against you, you can simply play -ar or -rd games, or wait even longer to select your hero.

 

Without further ado, here is my current alphabetical list of heroes and their significant counters. While there are thousands of possible counter combinations of heroes and items, they all vary in effectiveness and I will attempt to capture only the best. Please feel free to add your own suggestions after you’ve read the note at the bottom of the guide.

Heroes & Their Counters

Anti-Mage

Heroes:

{Tiny} Tiny has one of the smallest natural mana pools in the game, which lowers the effectiveness of Magina’s Mana Break & Mana Void. Grow greatly enhances Tiny’s physical damage output, which the low health Magina is very susceptible to. Additionally, should the Anti-Mage stay and fight, Craggy Exterior causes his fast attacks to work against him as he will be stunned and damaged frequently. As usual against an Anti-Mage player, it’s usually best to unleash all of your spells early in the fight before you’ve lost the necessary mana.

 

{Rhasta} Like most fragile blink heroes, Magina suffers greatly from chain disables. Between Shackle (4.75 seconds), Voodoo (4 seconds) and a Guinsoo (3 seconds), you can near permanently ground him. Additionally, his Wards deal physical (piercing to be exact) damage, so his Spell Shield won’t benefit him from any of this. Especially with a teammate nearby, there’s little chance he’ll survive.

 

{Bane} Nightmare can set Magina up for a team kill, or allow for an easy escape from him should he attempt an ambush. Fiend’s Grip gives you (and your team) 5 seconds of free shots at him, and if you went with Necronomicon then your summons can potentially drain his mana below Void or Blink levels. Lastly, Brain Sap is an exact exchange of life and is not reduced by his Spell Shield.

Axe

Heroes:

{Ursa Warrior} Ursa is most deadly when he is allowed to land multiple consecutive hits thanks to Fury Swipes. Axe’s primary mode of operation is to force enemies to attack him, which means Ursa’s damage will surpass any Helix damage by a significant margin. Culling Blade also loses effectiveness against high health enemies, and any proficient Ursa player will mass strength/health items in mid-late game. Lastly, Helix deals physical damage and Ursa is an AGI based hero so his relatively high armor will even further reduce Axe’s damage output.

Items: {2x Bracer} If you’ve only got 600 health, a Level 1 Culling Blade will kill you when you reach 50% health. However if you have 600 base health and 2x Bracers (~ 830 health) Axe needs to drop you to about 35% health to kill you. On some heroes, a Vitality/Soul Booster or HoT may be a better choice, but the idea here is that health boosting items render Culling Blade less effective.

Bloodseeker

Heroes:

{Bristleback} Rigwarl’s Bristleback ability passively reduces all damage that is taken from behind (including Rupture if it’s cast from behind). This fact, coupled with his run speed and slow spell makes him tough to kill… even when being chased by Strygwyr. Offensively, constant goo-spam will bring Bloodseeker to a crawl and allow you and your team to catch a fleeing BS, even with Thirst activated.

 

{Enchantress} Few heroes work as well as Enchantress as a defensive counter to Bloodseeker. If Ruptured, Wisps greatly aids in her survivability while she stands there waiting out the duration of the spell. Bloodseeker’s attacks are few and far between against her thanks to Untouchable, and her Enchant spell can save her or her ally’s life when being chased with Thirst. Lastly, Impetus is an amazing early game harassment tool against him to keep his levels down.

Bounty Hunter

Heroes:

{Doombringer} Doom’s ultimate not only prevents Wind Walk and Shuriken, it actually nullifies Jinada throughout the duration of the spell. This means no crits, no dodge, no stealth-escape, and without those traits Bounty Hunter will fall quickly to your LVL? and Doom.

Bristleback

Heroes:

{Axe} Berserker’s Call forces Rigwarl to face Axe throughout the duration which allows your team to land their spells/attacks against his front, making his Bristleback ability less effective. Also, Culling Blade is not effected by the Bristleback. (To give you an idea of how powerful that is, a late-game 600 hp fleeing Rigwarl would require ~1,400 worth of spell damage from behind to kill, versus a single Culling Blade from Axe.) Lastly, Axe is difficult to chase with Rigwarl as his attacks are fast causing multiple Helixes, which he takes from the front.

Butcher

Heroes:

{Juggernaut} Yunero’s bladefury allows him to not only escape the damage & slow of a rot-chase, but it also damages Pudge as long as he tries to chase. Pudge’s hooks most often come from secluded locations (in the woods, up a cliff, etc.) which basicaly just set him up for a full damage Omnislash if Jugg can survive the Dismember (not too difficult if you manage your hp carefully).

 

{Doombringer} If Doom is cast on Pudge while he has Rot on, it will prevent him from turning it off for the full duration of the spell. This can easily total over 2,000 damage without a Scepter, though you may not get the kill if the last damage dealt is from his Rot. Additionally, Luci’s large strength gain means he will have more than enough health to survive the Hook->Rot->Dismember combo mid-late game.

Doombringer

Heroes:

{Lord of Avernus} Abaddon’s ultimate will remove Doom when he reaches 400 health, which severely limits Doom to when he can cast his ultimate effectively. Abaddon’s Frostmourne helps to counter Scorched Earth when chasing, and his shield provides excellent lane harassment against a melee hero like Luci.

 

{Tide Hunter} Kraken Shell periodically removes negative buffs, including Doom, and it is a passive ability to boot. Currently, a level 4 Kraken Shell removes negative buffs every 8 seconds, which means on average you will only take 4 seconds worth of damage. Doom’s speed buff from Scorched Earth is also countered by his Gush spell which has a decent slow.

Earthshaker

Heroes:

{Silencer} Earthshaker is one of the few non-INT based heroes that rely on the power of multiple spells being fired off in quick succession. Putting a 4 second delay in between his spells royally screws him over in both 1v1 and team battles. A well timed Global Silence can prevent his ultimate from wrecking your team as soon as you see him charge in. As a bonus, a kill with Glaives of Wisdom will steal one of his already few INT points… and your ranged advantage makes laning against him easy. I’d suggest at least one point in Curse for early game harassment as keeping his mana low will prevent Fissure spam/blockage.

Enchantress

Heroes:

{Tinker} Enchantress fairs well against heroes that deal steady physical damage, thanks to her heal over time and her physical attack speed reduction. On the other side of the coin, her low health and lack of an instant-heal make her weak to heavy spell casters. Tinker is famous for his potentially endless onslaught of high damage nukes… especially when coupled with a Dagon. Some harassment and a launch of his Laser and Missiles in quick succession can end her before she can even click her Nature’s Attendants.

 

{Nerubian Assassin} NA breaks the mold as Enchantress usually does well against melee heroes, but his primary source of damage is his three active abilities. As with Tinker, near instant burst damage makes NA an amazing counter, and the damage output from Vendetta->Mana Burn->Impale will be more than she can handle early-mid game. What sets NA apart from other nukers is that his Mana Burn wrecks Enchantress as her spells are relatively costly (Nature’s Attendant’s is 170 mana at level 4). The key is to keep Mana Burn at level 1 and spam it whenever you see her get close to 40-55 mana to prevent Impetus harassment when laning against her.

Faceless Void

Heroes:

{Mangix} Panda is one of the best late-game perma-bash counters in the game, as his Drunken Haze can be coupled with his passive Drunken Brawler to achieve a dodge rating of ~80%. Faceless Void’s effectiveness is almost entirely dependent on being able to land his attacks and Mangix takes that away from him.

Geomancer

Heroes:

{Axe} Meepo and his three low-health clones simply give Axe 4 times the number of Helixes and a good selection of Culling Blade targets. You are almost guaranteed 3 helixes during your 3 second Berserker’s Call, coupled with a few normal attacks and you’ll have easily done 700+ damage to one of his clones. Culling Blade and watch the other 3 Meepos fall to the ground.

 

{Doombringer} We know Doom serves as a counter to many heroes, but it’s so easy to kill a Meepo clone it’s almost silly. With Aghanim’s Scepter, a LvL ? and Doom will kill a clone guaranteed, even if Meepo’s running around with a Mek. Killing him before you’ve gotten a Scepter is still so easy it’s almost not any fun… almost.

 

{Earthshaker} All of Eartshaker’s spells can have a point blank AoE stun associated with them, allowing him to keep Meepo and his clones locked down for several seconds while you focus on single target. Finishing with his ultimate causes his clones to take bonus damage from each other and his Fissure is also great for sniping low health Meepos on the run.

 

{Lich} Aside from his excellent early-game harassment against melee heroes, Lich’s ultimate requires multiple heroes to reach full effectiveness. Meepo is multiple heroes. Also, Lich’s Frost Armor works very well against his multiple attackers.

Items:

{Dagon} This certainly doesn’t go for every hero in the game, but many heroes can make good use of a Dagon against Meepo. While usually considered a sub-par item, focus firing your spells on a single clone and finishing with a Dagon can be an effective way of killing Geomancer.

Goblin Techies

Heroes:

{Image Heroes} If you’ve played as Techies before, you know how frustrating it can be to burn 5 Remote Mines on an image. Heroes like PL, Silithice and Terrorblade can make it difficult for Techies to decide when and where to detonate their mines. Regular mines can be cleared by simply sending the image into their vicinity, and this applies to Statis Traps as well.

Items:

{Gem} Techies is nothing without his invisible mines and traps. While it helps to avoid damage on Melee heroes, they really can’t do anything to get rid of the hazards. Thus, ranged heroes make better use of the item as they can destroy the mines and traps without consequence.

 

{Sentry Wards} Especially early game, these wards will make it much easier to lane against him. Through last-hitting and denying, try to keep the combat location of the creeps in range of your ward so that one ward at a time will suffice.

 

{Necronomicon} An item that grants vision of mines, extra health to survive them, and mana burn? Sounds like a custom tailored-item against Techies. Not all, but many heroes can use this much more effectively than a Gem or Wards so consider it an option.

Gorgon

Heroes:

{Anti-Mage} Magina’s Mana Break passive drops Medusa’s mana shield and health faster than any other melee attack. Magina’s Mana Void ultimate can then be used to the fullest potential. When slowed by Purge, Magina has Blink to escape or catch up in a chase.

 

{Nerubian Assassin} NA’s level 4 mana burn may only do 100 damage to her with her mana shield on, but it will burn almost 325 mana every time it’s cast. With a such a fast cooldown, her mana pool can be depleted very quickly. She has relatively low health so once her mana’s gone, just perform the usual Vendetta->Impale combo for the kill.

Holy Knight

Heroes:

{Enchantress} The Enchant ability can be used to instantly convert one of Chen’s creeps to fight for her, essentially making Chen do the hard work of creeping for stompers for her. Additionally, Enchantress provides similar healing abilities to her team (especially when coupled with Mekansm) which will offset the effectiveness of his healing spells for his team.

Items:

{Hand of Midas} This almost needs no explanation, but Midas allows you to instantly kill one of Chen’s creeps… which are usually high gold value creeps to begin with.

 

{Helm of the Dominator} This item works like Enchantress’ Enchant ability, allowing you to instantly convert one of Chen’s creeps to an ally. Be warned that Chen can simply re-convert the creep if the cooldown is ready, but you can definitely turn the tides by using his own stomper against him.

Juggernaut

Heroes:

{Omniknight} Purist has Guardian Angel to not only counter Omnislash for himself, but for his whole team. Juggernaut’s melee attacks require he be in range for Purify damage, and Degen Aura helps prevent Bladefury chasing. Bladefury is also magic damage, so one point in Repel is enough to last the full duration, allowing you to whack on him without his AoE DPS chewing on your health bar.

 

{Blink Heroes} Juggernaut has no way of dealing with Blink heroes. Both his Omnislash and his Bladefury require the enemy to stay within range of his attacks, and he has no means of disable on them.

Lich

Heroes:

{Nerubian Assassin} Few heroes can go toe-to-toe with Lich in an early game lane, and the real downside to Mana Burn is that often times it will drain all of the opponent’s mana… ceasing to do damage. Lich however has an endless supply with his Dark Ritual, and Mana Burn’s low mana cost and cooldown allow you to spam it indefinitely. As soon as you see Dark Ritual cast, follow up with an immediate Mana Burn and you’ll keep Lich in check. Mid-Late game, should you be caught in a bad situation with Lich’s ultimate creeping toward you, simply Vendetta to dodge it and finish the low hp hero off.

Life Stealer

Heroes:

{Medusa} Mana Shield prevents N’aix from leeching health. Early game use of Chain Lightning and ranged harass can keep him at a level deficit. Her Purge slows him to the point that she can escape even when under his Open Wounds ability.

 

{Silithice’s} Her Net goes through Rage, and his life leech does not work on her images. Splitting into her images removes his Open Wounds, and with her superior DPS she should have no problem taking him down at any point in the game, especially in 1v1 situations.

Lone Druid

Heroes:

{Lich} The Lich is often chosen as a counter for Syllabear for several reasons. First, Nova Spam while laning against him is an excellent harassment, and it can hit both Sylla and his pet. Second, Sylla virtually always has his pet with him, providing two targets to bounce his ultimate between. The bear will usually have more health than Sylla so you should either get the maximum number of bounces, or a dead Syllabear as long as there are no creeps around. Third, Lich’s frost armor significantly slows down his pet’s attack speed mid-late game, providing for fewer Entangles.

 

{Bane} Nightmare lasts longer on Sylla’s pet than it does on heroes, making it a good target for the spell. Sleeping the bear allows his Fiend’s Grip to last it’s full duration without worry. Brain Sap can nullify any early-game bear harassment that Sylla may attempt. Enfeeble is also a great counter to Rabid on his bear.

 

{Crystal Maiden} Frostbite’s duration is the same at all levels against Sylla’s pet, and the damage remains constant so a single point in Frostbite will do ~700 damage to his pet and immobilize it for 10 seconds. Sylla’s only form of channel-interrupt is Entangle, and with his bear in Frostbite you can cast your ultimate with nothing to fear.

Lord of Avernus

Heroes:

{Necrolyte} Reaper Scythe is one of the few spells that can pierce through Abaddon’s ultimate, assuming he has lost enough health for the spell to kill him. Death Pulse spam gives Necro the much needed survivability when laning against Avernus or running from him. One Pulse will destroy his shield and heal you for half the damage it does. The 5 second cooldown on Pulse (compared to 23 seconds on Shield) and your ranged attacks will ensure that your health is always greater than his. When he’s running around with 4k health late-game, just wait until your team gets him to 40% and end him with a single Scythe.

 

{Lion} As with the above counters, Lion also has the potential to kill Avernus through his Borrowed Time as his Finger of Death spell (starting at lvl 2) will do enough damage to prevent activating it. The catch is to used his Impale+Vodoo when he reaches the 600-700 health range, and then finish him off with Finger before he can activate his Apothic Shield. This requires excellent timing, but his two disables (three with Guinsoo’s) serve as a great way to hold him while your team brings him to a suitable level to finish him off. Lastly, his mana drain keeps Abaddon from spamming his Apothic Sheild during early game. (Lina’s ultimate works as well, but she lacks the disables & mana drain which are crucial)

Lord of Olympia

Heroes:

{Pugna} A well placed Netherward will completely dominate a spell-spamming Zeus. His mana will not regen and he will damage himself with every spell he casts. Put some thought into your ward placement, as it will make or break your gameplay. The ward should be placed close enough to keep him in the AoE, and yet far enough behind you and/or your creeps to force him to enter into a dangerous position should he attempt to destroy it.

 

{Keeper of the Light} Mana Leak will cause Zeus to lose 80% of his mana should he cast any spell within that 22 second buff window. While KotL has this advantage against most spell-reliant heroes, Zeus is the definition of “spell spammer” and is absolutely useless without his spells.

Moon Rider

Heroes:

{Abaddon} Borrowed Time, coupled with Apothic Shield, act as an excellent counter to Eclipse. He should wait until Luna uses her ultimate to cast his (and shield) and will take damage for the first hit, but will heal for the shield damage and remain unscathed for the rest of it. Once her ultimate has been used, Frostmourne and Abaddon’s fast movespeed will allow him to keep up with her.

 

{Clinkz} All Wind Walk heroes have an excellent counter to Luna’s ultimate, however Clinkz takes the cake against Luna. Like Bounty Hunter, Clinkz’s cooldown on his Wind Walk is lower than it’s duration, so he can break stealth to attack and immediately re-stealth once she ultimates. He far excels above BH in lane control with his orb attack for harassment and he will be far enough back not to be hit by Moon Glaive. Luna’s movespeed is 320, which is significantly above average. Clinkz however can match and exceed that easily by mid game making him one of the few that can actually chase her. Finally, Searing Arrows and Strafe wreck Luna’s low HP from mid game on.

 

{Templar Assassin} Lanya has several advantages over Luna throughout the game. Obviously her Meld work like wind-walk as an effective counter to Eclipse, with the added bonus damage/armor reduction attack when its over. Her traps also work wonderfully against Luna’s insane movement speed when chasing/fleeing. Finally, Refraction will absorb the first few Eclipse beams while you reach for your Meld key, and also functions as early game anti-harassment from Lucent Beams.

Morphling

Heroes:
{Bane} Enfeeble reduces damage based on stats by 120% at level 4, making Bane an amazing counter to Morph’s high agility damage output. Also, Bane serves as a poor hero to Replicate so don’t have to worry about his ultimate too much.

Naga Siren

Heroes:

{Magnataur} Naga is relatively weak without her images helping her out, and a decent Mag player can ensure that all of her clones are taken out quick and easy. This is done through the low mana cost on the now spammable Shockwave, and the ease at which Reverse Polarity can grab Naga and all her images after she net-surrounds you. Cleave and Shockwave are often enough to kill her images before she’s even unstunned from his ultimate.

Netherdrake

Heroes:

{Enchantress} This has probably been the most hotly debated counter in the thread, so I’m going to post it here with a disclaimer that you may or may not agree with the suggestion. Impetus works as a good counter-harassment to Viper’s Poison Sting when in a lane against each other. Viper’s lack of burst damage allows her Wisps the time needed to do their thing, and the slow from her Enchant ability is on par with his Poison Sting.

Oblivion

Heroes:

{Morphling} Pugna will have a hard time against an equally skilled Morphling, as Pugna’s Life Drain is interrupted by Waveform. On top of that, Morph is not affected by Nether Ward when using his Waveform. Pugna doesn’t have much health to begin with, and even if he has a BKB and Scepter, his ultimate is useless on Morphling.

Obsidian Destroyer

Heroes:

{Pugna} Nether Ward works wonders against high mana cost, spammable spells, and Obsidian Destroyer fits that description. His primary orb attack has no cooldown and costs 100 mana per cast (ward deals 150 damage in return). The sweetest part is that his ultimate costs 300/500/700 mana (ward deals 450,750,1050 damage in return), and with Pugna’s +4 INT per level compared to his +2.8 INT, Pugna will likely be unaffected by his Sanity’s Eclipse. Again, proper ward placement is a must and it would be wise to only use Life Drain after you’ve seen Astral cast on someone so as not to interrupt your drain.

Omniknight

Heroes:

{Gorgon} Omni relies on three abilities to remain effective in battle: Degen Aura, Repel & Guardian Angel. Gorgon’s Purge removes both Repel and GA, which renders his usual god-like survivability down to nothing. His Degen Aura is useful in chasing down enemies or running from them, however his 28% speed reduction is NOTHING in comparison to the 80% reduction from Purge. 5 seconds is more than enough time to catch up to (or run away from) an Omni player.

Items:
{Diffusal Blade} In the same way Gorgon’s Purge can make Omni’s life hell, Diffusal Blade’s purge does the same thing. While not necessarily a good choice on all heroes, many heroes can make use of the mana burn and Manta Style later in the game.

Phantom Assassin

Heroes:

{Doombringer} It seems that most people don’t realize that Doom not only prevents Shadow Strike and Blink Strike, it prevents both Coup de Grace and Blur passives throughout the duration of the spell. This means no crits, no dodge, no blink-escapes, and no slow spell. Without those traits, the fragile Mortred fall quickly to your LVL? and Doom.

 

{Nerubian Assassin} Mortred is one of the lowest health heroes in the game, and she is extremely weak against chain nuking. NA brings one of the highest damage nuke combos to the table once he hits level 6. Doesn’t he have this advantage against most low hp heroes? Yes, but she is rare in that she has no real disable and no real escape mechanism. Also, the best defense against her critical strikes is a high armor count, and Spiked Carcapace does the trick well for mid-late game. Granted, it doesn’t return critical strike damage, but it will help in survivability.

Phantom Lancer

Heroes:

{Axe} We know that Axe performs best with many weaker enemies attacking him, and this is the very nature of the Phantom Lancer. In addition to the surplus of Helixes, Berserker’s Call will force PL out of his Dopplewalk should he get caught in the AoE. Care should be taken when using Culling Blade however, as it sucks to find you wasted it on an image.

 

{Earthshaker} Echo Slam is amplified by each target it hits, including images. This can add up to a serious death toll if PL is walking around with 6+ images. However, most PL players will go for Manta Style which burns mana, so use your ultimate early to get rid of the images and make good use of your stuns.

 

{Bloodseeker} Strygwyr’s passive works on images (though only granting 20% of the hero’s health) which he can shred through like butter. Killing 2-3 of PL’s images should bring him to near full health every time. In addition, once Bloodthirst activates he can chase and auto-attack PL even after he’s Wind Walked away, partially nullifying that ability. Radiance is also a common item on BS, which works wonders against his images and clues you in on the real one.

 

{AoE Heroes} As many have pointed out, PL’s images are large in numbers but fall very quickly to AoE spells and attacks. Heroes like Magnataur with Cleave/Shockwave and those like Pugna with Nether Blast can make quick work of his images… which account for 3 of his 4 skills.

Items:

{Radiance} Many heroes that can farm relatively well and lack an AoE ability can use a Radiance to chew through PL’s images in no time. Forget trying to attack each image in search of the real hero, Radiance will make it quite obvious by which one is taking the least AoE damage. The evasion doesn’t hurt against a melee hero like him either.

Prophet

Heroes:

{Anti-Mage} No way, Anti-Mage is good against an INT hero? Really? Furion is utterly screwed in comparison to other INT heros when facing Magina… especially mid-late game. Magina’s blink (and all other blinkers) renders Furion’s Sprout spell useless, and his ultimate will do reduced damage to Magina thanks to his Spell Shield. Even his teleport can be interrupted by Magina’s Mana Void, making him the ultimate counter to Furion.

 

{Priestess of the Moon} Like blink, leap nullifies Furion’s Sprout, and Elune’s Arrow will cancel his teleport. Starfall helps to counter his treant summon pushes as well.

 

{Spirit Breaker} As with the above counters, there is nothing Furion can do to stop this hero from killing him. His Nether Strike allows him to “blink” out of a Sprout and his Charge allows him to close the distance on him quite easily. Finally, his bashes keep him from Teleporting out of the situation.

Items:

{Tangoes} Sprout plays a huge part of Furion’s gameplay, and for a few gold coins you can nullify it with any hero. Be sure to eat a “side” tree, as the other “corner” trees may or may not let you out.

Queen of Pain

Heroes:

{Anti-Mage} Magina does well against most INT heroes, but very few heroes can keep up with QoP and her ability to blink. She can’t really be played as a physical damage dealer, and all 3 of her offensive abilities are magic damage which is reduced by Spell Shield. Her blink can be countered by a good Magina player, and her short duration slow from Shadow Strike is not very effective against Magina’s already high base movespeed.

 

{Silencer} As previously stated, QoP has 4 active spells to choose from and the vast majority of her damage stems from their use. Last Word aura will passively prevent her from being able to Blink in and unleash 3 damage spells (and slow) instantly, and blink out. With a 4 second delay between casts, it would take her 12+ seconds to get off all 3 spells and be able to blink out. During that time Nortrom’s Glaives will wreck her low HP with little problem.

 

{Keeper of the Light} While more of a defensive counter, KotL can render QoP useless mid-late game. One should not solo as KotL against her early game, and when paired with a spell-spamming ally Chakra can keep her underleveled quite easily. Mana Leak should be gotten early, and your fingers should always be ready to hotkey it when she blinks in.

Rogue Knight

Heroes:

{Gorgon} The spell that makes Sven so powerful is his God’s Strength ability. Medusa’s Purge removes the buff instantly. Sven also lacks a natural escape mechanism, so Purge can set him up for an easy two-man gank. Also, lacking any real damage output without God’s Strength means he will have a hell of a time chewing through Mana Shield.

 

{Omniknight} Like Purge, even one point in Repel will remove God’s Strength from Sven, not to mention Guardian Angel which renders his team immune to Sven’s primary form of damage: physical attacks.

Items:

{Diffusal Blade} Having a Diffusal is like having a mini-Gorgon in your pocket that you can pull out and Purge with. It comes with 10 chances to remove Sven’s God’s Strength and slow him to a crawl. As with the hero counters, Sven simply sucks without his DPS boost.

Sacred Warrior

Heroes:

{Necrolyte} It’s only fitting that his greatest ally is his worst enemy. Reaper’s Scythe coupled with his Life Break can almost instantly kill any hero, regardless of how much health they have amassed. However, his ultimate and his tendency to run around at half-health (to get the full bonus of his Berserker’s Blood) make him a sitting duck for Necro’s ultimate.

Sand King

Heroes:

{Juggernaut} The Blademaster does not take Epicenter damage and is unaffected by Impale when he is in Blade Fury, so it’s an easy “out” should he find himself in that situation. His ultimate, Omnislah, also has a “ministun” effect on the first slash so it will stop SK’s channeling ult if timed correctly. If your opponent is foolish enough to use Sandstorm, simply stand right on top of him and Bladefury, you will take no damage and he will suffer the full duration of your spell. It’s advised to get a gem or carry some wards if you see SK use Sandstorm, because it will interrupt your Omnislash if he goes underground.

 

{Silencer} Another hotly debated counter… Sand King’s play style is often compared to Earthshaker’s, as they are both STR heroes that depend on multiple spells being fired off in quick succession. Silencer has the ability to passively prevent the infamous Impale>Epicenter combo and can effectively use his Global Silence to prevent it at any other time… even from across the map. Finally, his Glaives steal that precious +1 INT from Sand King’s already low INT stat pool upon death.

Skeleton King

Heroes:

{Anti-Mage} Magina’s Mana Break ability can help reduce Leoric’s mana below his Reincarnation threshold, rendering his ultimate useless. Just make sure you don’t go for the kill until you drop his mana below the 100/150/200 mana count. Leoric is often a high damage output hero late-game, and if you don’t go Bashers, it’s suggested you have a teammate hold him in place while you burn his mana. Your primary role is to waste his mana, so even if he tosses a Storm Bolt at you and you blink away, you’ve succeeded in lowering his mana by that much more.

 

{Nerubian Assassin} Similarly, NA can use his Mana Burn ability to achieve the same effect. However in his case, Spiked Carcapace helps reduce Skeleton King’s damage output, as well as returning some of the damage to himself. It’s easy to set up a gank with Vendetta, and two Mana Burns should be enough to bring him below the threshold of Reincarnation.

Items:

{Manta Style} Again, while not the best item for every hero, there are some heroes that can use it well and it works wonders against Skeleton King’s low mana pool. Phantom Lancer, Naga, Chaos Knight, etc. are among the many that can burn away his mana in a matter of seconds.

Slayer

Heroes:

{Pugna} If Lina casts her maxed Laguna Blade in the presence of Pugna’s Netherward, she will deal 950 damage (713 reduced) and receive 1020 damage (765 reduced) from the ward. That’s over 100% damage return instantly. If she tags on another spell or two and she will kill herself in a matter of seconds. As with all Pugna suggestions, ward placement is key to the success of this counter. Wards should be far enough away to prevent easy killing of the unit, but close enough to keep your enemies in range.

Spirit Breaker

Heroes:

{Centaur} The Return skill damage is doubled against Spirit Breaker. This is because his bonus damage from Empowering Haste is done through a second (instant) attack. Every time Spirit Breaker swings his lanterns he will take 100 damage in return, instead of the usual 50. A Vanguard will show the results more clearly as it will drastically reduce the damage you take while he will get hurt for the damage you blocked in full.

 

{Tidehunter} Kraken Shell removes 40 damage per hit against him, and like Centaur’s Return it will act twice against SB. Every attack SB makes can be reduced by a whopping 80 damage against Tidehunter, and that doesn’t take into account armor reduction. Additionally, Ravage can be used to stop SB’s Charge of Darkness and his Nether Strike if cast at the right time. Gush also helps to counter SB’s imba movespeed when chasing.

Stealth Assassin

Heroes:

{Bristleback} Rigwarl’s Bristleback passive ability heavily reduces all damage taken from behind, which is where SA wants to attack from most often. This reduction applies to Backstab damage as well. Quills can be spammed while being chased and Bristleback will also shoot quills which will stack and wear on your chaser. Lastly, Goo can keep SA in your warded area longer and allow you and your team to finish him quick with the stacked armor reduction.

Terrorblade
.::.

Heroes:

{Lion} Terrorblade hates two things, large burst damage, and stuns/disables. The burst damage found in Lion’s Impale and Finger of Death can be used to get TB below his Sunder threshold before he can activate it. The stun from Impale or the disable from Voodoo interrupt him from using his Soul Steal to heal. Lastly, his Conjure Image and Metamorphosis are quite mana intensive, so Mana Drain can work to your advantage.

 

{Slayer} Lina also has a stun and an arsenal of burst damage. TB must remain still to use his Soul Steal, making him an easy target for a Light Strike Array.

 

{Necrolyte} Terrorblade’s ultimate requires him to be at <50% health to be useful offensively. This puts him in a dangerous situation when around a Necro player has Reaper’s Scythe can finish him off (or simply drop him below the required health to even cast his Sunder). While he doesn’t have an ability to interrupt Soul Steal when laning against each other, his Death Pulse has a shorter cool down and can be used as soon as TB is done to keep him at low health.

Tormented Soul

Heroes:

{Anti-Mage} Magina excels against most INT heroes, but Leshrac is at the top of his food list. Aside from the fact that all of Leshrac’s damage is reduced by Spell Shield, most TS players will stockpile on mana so as to allow longer Pulse Nova durations. Pulse Nova drains heavy amounts of mana while turned on, and it’s possible to get Mana Void damage into the 1.5k damage range against him.

 

{Keeper of the Light} The Mana Leak ability shines against heroes with massive mana pools, and a reliance on spells for damage output. In this case, TS fits both of those. While Mana Leak works effectively against most INT heroes, few will have a mana pool as large as his.

Venomancer

Heroes:

{Silithice} She can simply cast Mirror Image to remove two of Veno’s primary skills: Poison Nova and Shadow Strike. Additionally, her net allows her crits and images to make quick work of low health AGI heroes like Venomancer. If her Mirror Image is on cooldown, she can always sleep after a Nova and allow her and her team to get away to safety.

 

{Tidehunter} Venomancer’s damage over time spells are periodically (and passively) removed from Tidehunter through his Kraken Shell. Veno also lacks an escape mechanism from Gush or Ravage.

 

{Lord of Avernus} Apothic Shield nullifies Shadow Strike as soon as it’s activated, on both Abaddon or his ally. When Veno’s ultimate is used, a Shield and Borrowed Time should leave you unharmed, with potentially more health than when it started. These things work better against Veno than most heroes because his damage is dealt over time, which allows more time for you to react and cast your Shield & Time.

 

{Nerubian Weaver} Venomancer lacks any burst damage, allowing Weaver plenty of time to hit his Time Lapse and remove every DoT Veno has. Nova has a much longer cooldown than Time Lapse, and Shukuchi + Geminate help Weaver establish lane control over Veno, who has the upper hand against most heroes. It should also be noted that a well timed Shukuchi can dodge a Shadow Strike projectile from Veno.

Items:

{Manta Style} In a similar fashion to Silithice listed above, Manta Style works well on many heroes as a quick way to remove all of Veno’s powerful damage over time spells.

Warlock

Items:

{Diffusal Blade} Heroes that can make use of this item (and Manta Style) can really piss off a Warlock player. 10 insta-kills of his summoned Infernal will also net you a respectable amount of gold in the process… almost making the item pay for itself if you use all the charges.

Categorical Counters (Special Cases)
INT Heroes

Heroes:

{Anti-Mage} This one may be obvious, but for thoroughness I have included it. Magina is called the “anti-mage” for a reason, every skill he has gives him an advantage over INT heroes. He’s often a good choice when faced with a majority of INT heroes on the opposing team.
{Silencer} Like AM, Silencer is also designed to counter heavy spell casters. If you’re against a majority of INT heroes that rely on firing off spells in quick succession (Lion, Lina, Tinker, Crystal Maiden, etc.), consider Silencer your best team player. His mana pool will be largely unused mid-late game, so consider a Mekansm to further counter the enemies AoE spells against your team.
{Pugna} Netherward is one of the best spells to use against INT based enemies. The AoE is huge, which lets the spell especially shine in team battles when spells are flying left and right. Constant draining of every enemies mana also helps in those prolonged team skirmishes. -Contributed by Harby

Items:
{Black King Bar} As with Anti-Mage, I almost feel this should go without saying… but an item that provides limited spell invulnerability works well against spell casters. If just one noob reads this and learns that’s what it’s for then it was worth it… right?

{Hood of Defiance} With an extra 30% magic resistance on top of your inherent 25%, you’ll be cutting all magic damage by more than half. The two RoR required to build it help out early game when trying to hold a lane against a nuker as well.

{Orchid Malevolence} While mostly an item for INT heroes, it provides a nice 5 second silence to a single target in addition to 20% damage amplification. Works as a great interrupt item for those channeling ultimates that could destroy your team in a big battle.

STR Heroes

Heroes:

{Necrolyte} Reaper Scythe does damage based on a percentage of health remaining, which means it can actually do more damage to enemies with large health pools. If your team is facing a 4k-HP Centaur player, you only need to do ~2.4k damage for a Scythe kill, instead of the full 4,000 damage.

 

{Terrorblade} Similarly, the Sunder ability also does damage based on a percentage of health, meaning the more (maximum) health his enemy has, the larger the potential to do damage is. TB’s worst enemies are those that can do large bursts of damage (mostly INT heroes) and excells against steady DPS heroes (i.e. most STR heroes).
{Huskar} Again, his ultimate is percentage based and does more damage when the target has more health. He to is a STR hero so he shouldn’t have a problem going toe-to-toe with his enemy well into the late-game.

Melee Heroes

Heroes:

{Nerubian Assassin} For 4 skill points and an easy 3540g, NA can have 80% melee damage return, +30 attack damage, and +18 armor through a few Blade Mails. The armor boost translates into alot of effective health for such a low HP hero. Note that it does not return critical strike damage, but for the most part your opponents will lose health much faster than you in any skirmish.
{Tiny} Craggy Exterior makes it difficult for melee characters to chase or kill Tiny easily. Melee means they have to be in Toss range to attack him, and should any of his opponents attempt a stun lock build, he can act as an effective counter against them.

 

{Enchantress} Untouchable makes her… well… simply untouchable… when faced with melee characters, as it slows their base attack speed by up to 90%. Additionally, the healing effect of her Nature’s Attendants works best when she takes steady damage (i.e. melee attacks), and not sudden burst damage (i.e. nukes). To top it all off, she is a ranged hero which gives her a large harassment edge when in a lane against melee opponents.

 

{Axe} One of my personal favorites, Axe is the bane of all melee heroes. This is especially true for low damage and high attack speed heroes, or melee heroes with relatively low strength gain (for easy Culling Blades). Once a Vanguard has been made, Helix will almost always ensure you’re doing more damage than they are and Berserker’s Call maintains it’s utility in team battles through the entire course of the game. -Contributed by mastershan

 

{Netherdrake} I don’t care what hero you choose, you will have a tough time laning against Viper. This is especially true for melee heroes. However, what makes Viper such a pain is the fact that he can orbwalk slow and kite you across the map. The insane attack speed reduction from Corrosive Skin, Poison Attack and Viper Strike does apply to ranged heroes, but at least they can nuke from a distance. Most melee heroes are dead in the water.

Items:

{Blade Mail} Assuming you’re not facing alot of heroes with critical strike passives, one or two Blade Mails can help bolster your armor and raise your effective DPS.

Stealth Heroes

Heroes:

{Slardar} Every stealth hero is serverely weakened when their ability to ambush and escape easily is taken away. Slardar’s ultimate keeps them from using Wind Walk or Invisibility, at very low mana cost to him and with fast cooldown. On top of this, stealthers are usually chasers, but against Slardar they are often the ones being chased with his Sprint, stun, slow and bash abilities. Amplify Damage also reduces the high-armor count on agility heroes up to 15.

 

{Bounty Hunter} A stealther to counter stealthers? It’s all about Track, which not only allows him to see Rikimaru, Clinkz, Rooftrellan or those Lothar’s users, but gives him the movement speed to keep up with them while he chases them down… the bonus gold and armor reduction are just icing on the cake. Jinada crits work wonders on the low HP heroes and the evade grants him considerable effective HP against their high damage output.

{Bloodseeker} Bloodrage will prevent them from stealthing in the first place, but at the effect of giving them a huge damage increase so make sure it’s only cast if you know your team can finish them quickly. Also, if any of the stealthers drop below the 40% health mark, Bloodthirst activates and you will be able to continue to chase/auto-attack them (even though you can’t visibly see him on the screen).

{Spiritbreaker} Aside from being able to tank their damage, his Charge of Darkness will give you and your whole team vision of the stealth hero from the second you cast it (even from across the map) until the moment of impact. It’s important that your team tries to finish off the stealther as soon as possible because your opponent can re-stealth after you’ve landed your stun. -Contributed by techplore

Items:
{Gem} Another item that should go without saying… but with the changes to Aegis, it becomes a much more difficult item to hold on to. Your team should put this item on the hardest to kill hero (Abaddon, Morphling, etc.) until one of you recieves an Aegis from Roshan. The hero that has the Aegis should carry it until he loses the charge.

{Sentry Wards} Recently nerfed, they still serve as an excellent counter to stealth heroes. Better used defensively, and placed in gank spots early game, or in locations of high traffic during mid-late game.

 

{Level 3 Necro Book} Not everyone benefits from the book the same, but many heroes can make good use of it. If your facing stealthers, and you have any form of channeling spells, then this item should be a no brainer as reveals hidden enemies and it boosts your DPS while you channel.

The exception to the rule…

Doombringer is unique in that his ultimate is really the “king of all counters” when you look at things the way we are for the purposes of this guide. Doom silences virtually every spell, skill and item that the target hero has… making it one of the most potent abilities in the game.